20 Merek China di Paris Auto Show 2026, 7 Model Jadi Sorotan
Sorotan Hari Ini – Paris Auto Show 2026 bakal menjadi salah satu panggung penting bagi perkembangan industri otomotif China di Eropa. Sebanyak 20 merek China Paris Auto Show 2026 tercatat masuk dalam daftar peserta. Kehadiran mereka bukan sekadar menambah jumlah peserta pameran. Sejumlah produsen juga membawa teknologi elektrifikasi dan model baru untuk diperkenalkan kepada pasar global. Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 12–18 Oktober 2026 di Paris Expo Porte de Versailles. Oleh karena itu, perhatian publik diperkirakan tidak hanya tertuju pada merek Eropa. Produsen China juga berpeluang menjadi salah satu pusat perhatian selama pameran berlangsung.
20 Merek China Memperkuat Kehadiran di Paris Auto Show 2026
Kehadiran produsen China terlihat cukup besar jika melihat daftar peserta tahun ini. Setidaknya terdapat 20 nama, yakni 212, Aito, BYD, Changan, Chery, Denza, Forthing, Foton, GAC, Geely, Jaecoo, Leapmotor, Li Auto, Lotus, Lynk & Co, Maxus, Omoda, Smart, Xpeng, dan Zeekr. Menariknya, masing-masing datang dengan karakter produk yang berbeda. Ada merek yang fokus pada kendaraan listrik, sementara lainnya mengembangkan teknologi plug-in hybrid atau EREV. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi produsen China di Eropa semakin beragam. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan satu jenis kendaraan untuk menjangkau konsumen.
Tujuh Model Baru Menjadi Bagian Penting Pameran
Selain jumlah mereknya yang besar, tujuh kendaraan baru diperkirakan menjadi sorotan utama dari kubu China. Model tersebut adalah Geely Monjaro EM-i, Lynk & Co 07 GT, Li Auto i6, Xpeng G9L, Zeekr 9X, Leapmotor D19, dan Smart #2. Ketujuh mobil itu hadir dalam bentuk yang sangat beragam. Ada SUV besar, station wagon, kendaraan listrik perkotaan, hingga mobil dengan sistem range extender. Karena itu, Paris Auto Show 2026 dapat menjadi gambaran tentang arah pengembangan kendaraan China untuk konsumen internasional. Fokusnya tidak lagi sekadar pada harga, tetapi juga performa, efisiensi, teknologi, dan kebutuhan penggunaan sehari-hari.
Geely Monjaro EM-i Membawa Pendekatan PHEV ke Eropa
Geely Monjaro EM-i menjadi salah satu produk yang menarik untuk diperhatikan. SUV ini menggunakan mesin bensin turbo 1,5 liter yang bekerja bersama dua motor listrik. Tenaga gabungannya mencapai 305 kW atau sekitar 409 hp. Sementara itu, baterai berkapasitas 29,8 kWh mendukung perjalanan listrik hingga sekitar 130 km berdasarkan klaim yang tersedia. Jarak tempuh gabungannya dapat mencapai sekitar 1.100 km. Paris menjadi penting bagi Monjaro EM-i karena model tersebut sebelumnya sudah diperkenalkan di beberapa pasar ekspor. Dengan demikian, penampilannya di Prancis dapat membuka babak baru bagi Geely untuk memperluas jangkauan produk elektrifikasinya di Eropa.
Lynk & Co 07 GT Tawarkan Bentuk Station Wagon yang Berbeda
Lynk & Co memilih pendekatan berbeda melalui 07 GT. Mobil ini menjadi station wagon pertama dari merek tersebut dan menggunakan sistem plug-in hybrid EM-P. Pada varian AWD, mesin 1,5 liter bekerja bersama dua motor listrik. Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga puncak sekitar 390 kW atau 523 hp. Selain itu, baterai 28,3 kWh memberikan jarak berkendara listrik sekitar 139 km berdasarkan standar WLTP. Jarak tempuh kombinasi yang diklaim mencapai 1.315 km. Angka tersebut menunjukkan bahwa 07 GT tidak hanya mengejar performa. Mobil ini juga dirancang sebagai kendaraan perjalanan jauh yang tetap menawarkan fleksibilitas elektrifikasi.
Baca Juga: Urutan Cas HP yang Tepat agar Baterai Tetap Awet Maksimal
Li Auto i6 Menandai Langkah Baru Menuju Pasar Eropa
Li Auto i6 membawa cerita yang berbeda karena kehadirannya berkaitan dengan debut Li Auto di Eropa. SUV listrik lima penumpang ini memiliki dua pilihan sistem penggerak. Versi RWD menggunakan motor listrik 250 kW, sedangkan varian AWD mempunyai tenaga gabungan hingga 400 kW. Baterai LFP berkapasitas 87,3 kWh menjadi sumber energinya. Pada versi RWD, jarak tempuhnya tercatat hingga sekitar 590 km berdasarkan standar WLTP. Bagi Li Auto, spesifikasi saja tentu belum cukup untuk memenangkan perhatian konsumen Eropa. Namun, kemunculan i6 di Paris memberikan kesempatan penting untuk memperkenalkan identitas merek kepada pasar yang lebih luas.
Xpeng G9L Membawa SUV Besar dengan Dua Pilihan Teknologi
Xpeng G9L memperlihatkan bagaimana produsen China mulai menyasar kelas SUV besar dengan teknologi yang lebih fleksibel. Panjang kendaraan ini mencapai lebih dari 5,1 meter. Untuk pasar internasional, konfigurasi tiga baris kursi juga dipersiapkan. Menariknya, G9L ditawarkan dalam versi listrik murni dan EREV. Varian listrik dengan baterai 110 kWh memiliki jarak tempuh hingga sekitar 619 km berdasarkan WLTP. Sementara itu, versi EREV diklaim mampu mencapai jarak kombinasi sekitar 1.602 km menurut standar CLTC. Produksi G9L juga direncanakan berlangsung di Graz, Austria. Hal ini memberi sinyal bahwa ekspansi Xpeng tidak hanya berpusat pada penjualan, tetapi juga mulai menyentuh strategi produksi regional.
Zeekr 9X Membidik Segmen SUV Premium Berperforma Tinggi
Zeekr 9X hadir dengan pendekatan yang jauh lebih agresif. SUV dengan panjang lebih dari 5,2 meter tersebut menggunakan sistem plug-in hybrid yang menggabungkan mesin bensin 2,0 liter dan motor listrik. Versi dua motor menawarkan tenaga gabungan sekitar 660 kW atau 885 hp. Bahkan, konfigurasi tiga motor memiliki keluaran puncak hingga 1.030 kW atau sekitar 1.381 hp. Angka tersebut menempatkan 9X dalam kelompok SUV elektrifikasi dengan performa sangat tinggi. Namun, tenaga bukan satu-satunya hal yang menarik. Kehadiran 9X juga memperlihatkan ambisi Zeekr untuk membangun citra premium di luar China melalui teknologi, desain, dan kemampuan elektrifikasi.
Leapmotor D19 Mengandalkan Fleksibilitas untuk Kebutuhan Keluarga
Leapmotor D19 dirancang sebagai SUV besar dengan pilihan enam atau tujuh tempat duduk. Oleh sebab itu, model ini lebih dekat dengan kebutuhan keluarga dibanding sekadar kendaraan berperforma tinggi. D19 tersedia dalam konfigurasi EREV dan BEV. Pada versi EREV, pilihan baterainya mencapai 80,3 kWh dan jarak berkendara listrik diklaim hingga 500 km berdasarkan CLTC. Sementara itu, versi BEV menggunakan arsitektur 1.000 volt. Pilihan baterainya mencapai 115 kWh dengan jarak tempuh maksimum sekitar 720 km berdasarkan CLTC. Perbedaan standar pengujian perlu diperhatikan saat membandingkan angka tersebut dengan kendaraan yang memakai WLTP. Meski demikian, spesifikasinya tetap menunjukkan fokus Leapmotor pada efisiensi perjalanan jarak jauh.
Smart #2 Kembali Membawa Konsep Mobil Kota Berukuran Ringkas
Di tengah banyaknya SUV besar, Smart #2 justru menawarkan pendekatan yang berlawanan. Mobil listrik dua penumpang ini memiliki panjang sekitar 2.764 mm sehingga cocok dengan karakter kendaraan perkotaan. Model tersebut berdiri di atas Electric Compact Architecture dan desainnya dikembangkan oleh Mercedes-Benz. Sementara itu, bagian sistem kendaraan berada dalam ekosistem kolaborasi Smart dan Geely. Motor listriknya menghasilkan daya sekitar 60 kW atau 80 hp. Berdasarkan informasi yang beredar sebelum peluncuran, baterai LFP 35,8 kWh memberikan jarak tempuh sekitar 336 km menurut WLTP. Ukurannya yang ringkas membuat Smart #2 menjadi kontras menarik di antara SUV berukuran besar yang mendominasi daftar debut.
Elektrifikasi China Kini Tidak Hanya Berbicara soal Mobil Listrik Murni
Salah satu hal paling menarik dari deretan kendaraan tersebut adalah keberagaman teknologi penggeraknya. BEV memang tetap menjadi bagian penting, tetapi PHEV dan EREV semakin menonjol. Pendekatan ini cukup masuk akal karena kebutuhan konsumen Eropa tidak selalu sama. Sebagian pengguna membutuhkan mobil listrik murni untuk aktivitas perkotaan. Namun, pengguna lain masih menginginkan fleksibilitas ketika melakukan perjalanan jauh. Karena itu, produsen China terlihat mencoba menawarkan beberapa solusi sekaligus. Dari sudut pandang industri, strategi tersebut dapat memperluas kelompok konsumen yang bisa dijangkau tanpa bergantung pada satu teknologi elektrifikasi saja.
Paris Menjadi Ujian Penting bagi Ekspansi Produsen China
Ramainya merek China Paris Auto Show 2026 menunjukkan perubahan peta persaingan otomotif yang semakin nyata. Namun, tampil di pameran besar tentu berbeda dengan membangun posisi kuat di pasar. Produsen tetap harus menghadapi persoalan jaringan penjualan, layanan purnajual, regulasi, persepsi konsumen, hingga persaingan dengan merek yang sudah lama beroperasi di Eropa. Di sisi lain, teknologi baterai, efisiensi, desain, dan variasi produk menjadi modal yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, Paris Auto Show 2026 layak dilihat bukan sekadar sebagai tempat memamerkan mobil baru. Ajang tersebut juga menjadi salah satu titik untuk membaca seberapa serius produsen China membangun masa depan mereka di pasar Eropa.
