Ahli Ungkap Alasan Kebakaran Hutan Makin Sulit Dipadamkan
Sorotan Hari Ini – Kebakaran hutan makin sulit dipadamkan ketika cuaca panas, udara kering, dan vegetasi yang kehilangan kelembapan muncul bersamaan. Kondisi tersebut dapat membuat api lebih mudah menyala dan berkembang cepat. Sebuah studi yang dipimpin John T. Abatzoglou memperkuat gambaran itu. Penelitian yang terbit di Nature Communications pada 10 Juli 2025 menemukan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan peluang munculnya kondisi cuaca kebakaran ekstrem. Dalam iklim kontemporer 2011–2040, peluang ekstrem Fire Weather Index (FWI) diperkirakan 88–152 persen lebih tinggi dibandingkan kondisi mendekati praindustri 1851–1900. Temuan ini tidak berarti perubahan iklim menyalakan setiap kebakaran. Sumber penyalaan tetap dapat berasal dari manusia maupun faktor alami. Namun, iklim yang lebih mendukung kebakaran dapat membuat api lebih sulit dikendalikan setelah muncul.
Baca Juga: Singapura Siapkan Hampir Rp1 Miliar untuk Setiap Anak hingga Usia 17 Tahun
Cuaca Ekstrem Membuat Api Lebih Sulit Dikendalikan
Pemadaman kebakaran tidak hanya bergantung pada jumlah petugas dan peralatan. Kondisi atmosfer juga sangat menentukan perilaku api. Suhu tinggi dapat mempercepat hilangnya kelembapan dari vegetasi dan material organik. Sementara itu, kelembapan udara yang rendah membantu menciptakan bahan bakar yang lebih kering. Angin juga dapat mempercepat penyebaran api dan membawa bara ke lokasi lain. Karena itu, beberapa faktor cuaca yang muncul bersamaan dapat menciptakan kondisi berbahaya. Penelitian Abatzoglou dan tim menggunakan Fire Weather Index untuk menilai kondisi cuaca yang mendukung kebakaran. Studi tersebut menemukan bahwa tahun dengan kebakaran regional ekstrem sering bertepatan dengan kondisi FWI yang sangat tinggi. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya api. Kondisi lingkungan menentukan seberapa cepat api berkembang setelah penyalaan terjadi.
Perubahan Iklim Meningkatkan Peluang Cuaca Kebakaran Ekstrem
Salah satu temuan penting penelitian tersebut berkaitan dengan perubahan probabilitas. Para peneliti membandingkan kondisi iklim kontemporer 2011–2040 dengan iklim mendekati praindustri 1851–1900. Hasilnya menunjukkan peluang ekstrem FWI 1-dalam-15-tahun meningkat sekitar 88–152 persen di kawasan hutan global. Bahkan, median rasio risikonya berada pada kisaran 1,88 hingga 2,52, tergantung metrik FWI yang digunakan. Sekitar 46–65 persen kawasan berhutan global dalam analisis juga menunjukkan setidaknya dua kali lipat peluang kondisi FWI ekstrem. Namun, perubahan tersebut tidak seragam di semua tempat. Hutan beriklim sedang dan kawasan Amazon menunjukkan peningkatan yang kuat. Sementara itu, ketidakpastian model lebih besar di beberapa wilayah boreal, termasuk bagian Kanada, Alaska, dan Siberia. Detail ini penting agar hasil penelitian tidak disederhanakan menjadi satu angka untuk semua wilayah.
Tahun Kebakaran Ekstrem Menunjukkan Dampak yang Jauh Lebih Besar
Peneliti tidak hanya melihat luas area yang terbakar. Mereka juga membandingkan karakter kebakaran pada tahun ekstrem dengan tahun lainnya. Hasilnya cukup mencolok. Tahun kebakaran ekstrem menunjukkan sekitar empat kali lebih banyak kebakaran besar dibandingkan tahun non-ekstrem. Selain itu, emisi karbon dari kebakaran meningkat sekitar lima kali lipat. Penelitian mendefinisikan tahun kebakaran regional ekstrem berdasarkan tahun dengan luas hutan terbakar terbesar selama periode pengamatan satelit 2002–2023. Data luas area terbakar berasal dari produk MODIS. Dengan demikian, penelitian menggabungkan observasi kebakaran dengan indikator cuaca serta simulasi iklim. Pendekatan tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan antara kondisi atmosfer dan kebakaran ekstrem. Namun, hubungan itu tetap perlu dibaca secara hati-hati. Luas kebakaran juga dipengaruhi vegetasi, pengelolaan lahan, sumber penyalaan, dan kemampuan pemadaman di setiap wilayah.
Kebakaran Besar Terjadi di Berbagai Belahan Dunia
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan rangkaian musim kebakaran yang luar biasa. Studi tersebut membahas delapan kawasan sebagai studi kasus. Contohnya mencakup Siberia pada 2012, Australia pada 2019–2020, serta Amerika Serikat bagian barat pada 2020. Selain itu, peneliti memasukkan Chili pada 2022–2023 dan Kanada pada 2023. Beberapa wilayah lain juga masuk dalam analisis. Peristiwa tersebut memiliki kondisi lokal yang berbeda. Oleh sebab itu, penyebab setiap kebakaran tidak boleh disamaratakan. Namun, penelitian menemukan pola yang konsisten antara tahun kebakaran regional ekstrem dan cuaca yang sangat mendukung kebakaran. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa perubahan iklim menjadi perhatian besar dalam manajemen kebakaran. Ketika kondisi berbahaya semakin mungkin terjadi, kapasitas pemadaman dapat menghadapi tekanan yang lebih berat pada periode tertentu.
Bahan Bakar Kering Membantu Api Bertahan dan Menyebar
Api membutuhkan bahan bakar untuk terus berkembang. Di hutan, bahan tersebut dapat berupa rumput, daun, ranting, semak, hingga material organik lainnya. Ketika material kehilangan banyak kelembapan, bahan tersebut dapat lebih mudah terbakar. Karena itu, periode panas dan kering mempunyai peran besar dalam meningkatkan bahaya kebakaran. Namun, jumlah serta jenis bahan bakar juga dipengaruhi kondisi ekosistem dan pengelolaan lahan. Inilah alasan risiko kebakaran tidak dapat dijelaskan hanya melalui temperatur. Sebuah kawasan dapat mengalami panas tinggi, tetapi karakter kebakarannya tetap dipengaruhi vegetasi dan kondisi lokal. Sebaliknya, akumulasi bahan bakar yang besar dapat menciptakan persoalan serius ketika bertemu cuaca ekstrem. Menurut saya, bagian ini penting dalam memahami mengapa pemadaman bukan satu-satunya solusi. Pengelolaan risiko perlu dilakukan sebelum api muncul, bukan hanya ketika kebakaran sudah berkembang.
Aktivitas Manusia Tetap Menjadi Bagian Penting dari Risiko
Perubahan iklim memperbesar peluang kondisi cuaca yang mendukung kebakaran ekstrem. Namun, itu bukan berarti setiap kebakaran langsung disebabkan oleh perubahan iklim. Api tetap membutuhkan sumber penyalaan. Aktivitas manusia, perubahan penggunaan lahan, dan praktik pengelolaan kawasan dapat memengaruhi risiko di banyak tempat. Di kawasan tropis, perubahan tutupan lahan juga dapat berinteraksi dengan kondisi kering. Oleh karena itu, strategi pencegahan harus melihat persoalan secara menyeluruh. Mengurangi penyalaan yang dapat dicegah tetap penting. Perlindungan hutan dan pengelolaan lanskap juga memiliki peran. Selain itu, sistem deteksi dini dapat membantu petugas menemukan titik api sebelum berkembang. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada menempatkan seluruh persoalan pada satu faktor. Studi Abatzoglou dan tim sendiri menekankan bahwa perubahan iklim akibat manusia meningkatkan peluang tahun kebakaran ekstrem yang didorong kondisi iklim.
Indonesia Memiliki Tantangan Karhutla yang Kompleks
Bagi Indonesia, pembahasan mengenai kebakaran membutuhkan konteks yang lebih luas. Kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi pada berbagai tipe lanskap. Kondisi tanah, vegetasi, pola hujan, serta penggunaan lahan dapat memengaruhi perilaku api. Karena itu, temuan global tidak seharusnya diterapkan secara mentah untuk menjelaskan setiap kejadian karhutla di Indonesia. Namun, prinsip dasarnya tetap relevan. Periode panas dan kering dapat meningkatkan bahaya kebakaran. Jika kondisi tersebut bertemu dengan sumber penyalaan serta bahan bakar yang tersedia, pengendalian menjadi lebih sulit. Selain itu, banyak titik api yang muncul secara bersamaan dapat menekan kapasitas petugas. Fokus pencegahan karena itu menjadi sangat penting. Pemantauan cuaca, patroli, deteksi titik panas, pengelolaan lahan, dan kesiapan sumber daya perlu bekerja bersama. Pendekatan terintegrasi memberikan peluang lebih baik untuk menahan kebakaran sebelum berkembang menjadi bencana besar.
Banyak Titik Api Bisa Membebani Kapasitas Pemadaman
Kebakaran ekstrem menciptakan persoalan operasional yang berbeda dari kebakaran biasa. Ketika banyak lokasi terbakar dalam waktu hampir bersamaan, sumber daya harus dibagi. Personel, kendaraan, pesawat, pompa, serta logistik tidak tersedia tanpa batas. Selain itu, kondisi cuaca berbahaya dapat membatasi operasi di lapangan. Api yang berkembang cepat juga dapat mengurangi waktu untuk mengambil keputusan. Situasi seperti ini menunjukkan mengapa peningkatan risiko cuaca kebakaran ekstrem perlu diperhitungkan dalam perencanaan. Penelitian Abatzoglou dan tim menyimpulkan bahwa perubahan iklim meningkatkan peluang tahun kebakaran ekstrem. Karena itu, para peneliti menekankan kebutuhan terhadap mitigasi dan adaptasi yang proaktif. Artinya, pemerintah dan pengelola kawasan tidak dapat hanya mengandalkan respons setelah kebakaran membesar. Kapasitas pemadaman tetap penting. Namun, strategi tersebut perlu didukung pencegahan, perencanaan, dan perlindungan masyarakat sebelum musim berbahaya tiba.
Pencegahan Perlu Dimulai Sebelum Musim Kebakaran
Strategi proaktif dapat mengambil bentuk berbeda sesuai karakter setiap ekosistem. Pengelolaan bahan bakar vegetasi merupakan salah satu pendekatan di wilayah yang memang sesuai secara ekologis. Di tempat lain, prioritasnya mungkin berupa perlindungan lahan, pembatasan aktivitas pembakaran, atau peningkatan patroli. Selain itu, sistem peringatan berbasis kondisi cuaca dapat membantu menentukan periode dengan risiko tinggi. Informasi tersebut memungkinkan petugas menempatkan sumber daya lebih awal. Masyarakat juga dapat menerima peringatan sebelum situasi memburuk. Namun, strategi tidak boleh disalin begitu saja dari negara lain. Hutan boreal, hutan Mediterania, savana, dan lahan tropis memiliki karakter yang berbeda. Oleh sebab itu, kebijakan harus mempertimbangkan ekologi serta kondisi sosial setempat. Prinsip utamanya tetap sama. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar kesempatan mencegah penyalaan atau menahan api sebelum mencapai skala ekstrem.
Mengatasi Karhutla Membutuhkan Strategi Jangka Panjang
Temuan terbaru menunjukkan bahwa tantangan kebakaran hutan tidak cukup dijawab dengan menambah armada pemadam. Dunia juga perlu beradaptasi terhadap kondisi iklim yang berubah. Pada saat yang sama, mitigasi perubahan iklim tetap penting untuk membatasi peningkatan risiko pada masa mendatang. Studi di Nature Communications menunjukkan bahwa pengaruh perubahan iklim terhadap peluang cuaca kebakaran ekstrem sudah dapat terlihat dalam perbandingan iklim kontemporer dan praindustri. Bagi pengelola kawasan, pesan tersebut cukup jelas. Pencegahan, kesiapsiagaan, pengelolaan lanskap, dan kemampuan respons harus berjalan bersama. Kebakaran hutan makin sulit dipadamkan ketika cuaca ekstrem menciptakan lingkungan yang memungkinkan api tumbuh cepat. Namun, dampaknya tetap dapat ditekan melalui pengelolaan risiko yang tepat. Alih-alih hanya menunggu titik api muncul, pendekatan jangka panjang perlu membaca perubahan risiko sebelum musim kebakaran mencapai kondisi paling berbahaya.
