Meski 6 Organ Ini Diangkat, Manusia Tetap Bisa Hidup

Meski 6 Organ Ini Diangkat, Manusia Tetap Bisa Hidup

Sorotan Hari Ini – Tubuh manusia bekerja melalui sistem yang saling terhubung. Namun, menariknya, ada beberapa organ yang bisa diangkat tanpa langsung menghilangkan kemampuan tubuh untuk bertahan hidup. Kondisi ini mungkin terjadi karena fungsi organ tersebut dapat dikompensasi oleh bagian tubuh lain. Selain itu, beberapa organ memiliki kapasitas fungsi yang lebih besar daripada kebutuhan minimum tubuh. Ada pula organ berpasangan, sehingga satu organ yang sehat dapat menjalankan fungsi penting setelah pasangannya diangkat. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti operasi bisa dilakukan tanpa alasan medis. Setiap pengangkatan organ merupakan keputusan medis yang mempertimbangkan manfaat dan risiko. Pasien juga dapat membutuhkan perubahan gaya hidup, vaksinasi, pemeriksaan rutin, atau rehabilitasi. Jadi, kemampuan bertahan hidup setelah kehilangan organ memperlihatkan fleksibilitas fisiologi manusia. Namun, adaptasi tersebut tetap membutuhkan perhatian medis yang sesuai.

Baca Juga: Jonatan Christie Mulus di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Jojo Soroti Perubahan Besar India

1. Limpa Bisa Diangkat, tetapi Risiko Infeksi Meningkat

Limpa berada di bagian kiri atas perut. Organ ini berperan dalam sistem imun dan membantu menyaring darah. Meski memiliki fungsi penting, manusia dapat hidup tanpa limpa setelah menjalani splenektomi. Namun, kehilangan limpa membawa konsekuensi medis. Salah satu perhatian terbesar adalah meningkatnya kerentanan terhadap infeksi tertentu. Karena itu, pasien tanpa limpa biasanya memerlukan strategi pencegahan infeksi sesuai arahan dokter. Vaksinasi menjadi bagian penting dalam perlindungan tersebut. Dalam situasi tertentu, dokter juga dapat memberikan rekomendasi tambahan berdasarkan usia dan kondisi pasien. Dengan demikian, mengatakan limpa “tidak diperlukan” sebenarnya terlalu sederhana. Tubuh memang mampu bertahan tanpanya, tetapi fungsi pertahanan yang sebelumnya dilakukan limpa tidak sepenuhnya menjadi tidak penting. Orang yang telah menjalani splenektomi tetap perlu memahami risiko infeksi dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.

2. Kandung Empedu Bukan Tempat Empedu Diproduksi

Kandung empedu sering disalahartikan sebagai organ yang menghasilkan empedu. Sebenarnya, hati yang memproduksi cairan tersebut. Kandung empedu berfungsi terutama untuk menyimpan dan memekatkan empedu sebelum dilepaskan ke usus. Karena itu, seseorang tetap dapat hidup setelah kandung empedu diangkat melalui prosedur kolesistektomi. Setelah operasi, empedu yang diproduksi hati tidak lagi disimpan di kandung empedu. Cairan tersebut mengalir melalui saluran empedu menuju usus. Banyak orang dapat kembali menjalani aktivitas dan pola makan normal setelah masa pemulihan. Namun, respons setiap pasien berbeda. Sebagian orang dapat mengalami perubahan pencernaan, terutama pada periode awal setelah operasi. Oleh sebab itu, penyesuaian makanan mungkin diperlukan berdasarkan toleransi individu. Kasus ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana tubuh mengubah mekanisme penyimpanan tanpa kehilangan proses utama yang diperlukan untuk pencernaan lemak.

3. Usus Buntu Dapat Diangkat Melalui Apendektomi

Usus buntu atau appendix merupakan kantong kecil yang terhubung dengan bagian awal usus besar. Organ ini paling sering dikenal karena apendisitis, yaitu peradangan yang dapat membutuhkan penanganan segera. Salah satu terapinya adalah apendektomi atau operasi pengangkatan appendix. Manusia dapat menjalani kehidupan tanpa usus buntu. Namun, pandangan bahwa appendix merupakan organ yang sama sekali tidak memiliki fungsi sudah berkembang. Penelitian menunjukkan jaringan limfoid pada appendix memiliki hubungan dengan sistem imun, terutama pada masa awal kehidupan. Ada pula penelitian mengenai kemungkinan perannya dalam ekosistem mikroba usus. Meski demikian, fungsi tersebut tidak membuat appendix mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup. Setelah operasi dan pemulihan berjalan baik, sistem pencernaan tetap dapat bekerja tanpa organ tersebut. Dengan demikian, appendix termasuk contoh organ yang dapat diangkat ketika terdapat indikasi medis tanpa menyebabkan hilangnya fungsi pencernaan secara keseluruhan.

4. Manusia Dapat Hidup dengan Satu Ginjal Sehat

Sebagian besar manusia memiliki dua ginjal. Namun, organ yang bisa diangkat berikutnya adalah salah satu ginjal apabila ginjal lainnya sehat. Kondisi ini menjadi dasar donor ginjal dari orang hidup. Selain karena operasi atau donor, sebagian orang memang lahir dengan satu ginjal. National Kidney Foundation menjelaskan bahwa kebanyakan orang dengan satu ginjal dapat menjalani kehidupan sehat. Satu ginjal yang sehat mampu melakukan pekerjaan penyaringan yang dibutuhkan tubuh. Namun, pemantauan jangka panjang tetap penting. Beberapa orang dapat mengalami tekanan darah tinggi, protein dalam urine, atau penurunan fungsi ginjal seiring waktu. Karena itu, pemeriksaan fungsi ginjal dan tekanan darah secara rutin dianjurkan. Menjaga pola hidup sehat juga membantu melindungi ginjal yang tersisa. Jadi, hidup dengan satu ginjal sangat mungkin, tetapi menjaga kesehatan organ tersebut menjadi prioritas yang lebih besar.

Satu Ginjal Tidak Berarti Setengah Kemampuan Tubuh

Menariknya, kehilangan satu ginjal tidak berarti kapasitas penyaringan otomatis turun menjadi setengah untuk selamanya. Ginjal yang tersisa dapat mengalami adaptasi dan mengambil beban kerja lebih besar. Dalam donor hidup, ginjal yang tersisa bahkan dapat sedikit membesar sebagai bagian dari proses kompensasi. Namun, adaptasi tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan ginjal. National Kidney Foundation merekomendasikan pemantauan fungsi ginjal dan tekanan darah secara berkala bagi orang dengan satu ginjal. Selain itu, penggunaan obat tertentu perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama bila berpotensi memengaruhi ginjal. Kondisi seperti diabetes dan hipertensi juga perlu dikendalikan. Dengan perawatan yang tepat, banyak orang dengan satu ginjal dapat tetap bekerja, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

5. Satu Paru-Paru Dapat Menopang Kehidupan

Manusia juga dapat bertahan hidup dengan satu paru-paru. Operasi untuk mengangkat seluruh paru-paru disebut pneumonektomi. Prosedur besar tersebut dapat dilakukan pada kondisi medis tertentu, termasuk beberapa kasus kanker paru. Setelah operasi, paru-paru yang tersisa mengambil peran lebih besar dalam memenuhi kebutuhan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Namun, hidup dengan satu paru-paru tentu tidak selalu identik dengan kondisi sebelum operasi. Kapasitas aktivitas fisik dapat berkurang, terutama pada aktivitas yang membutuhkan kerja pernapasan tinggi. Usia, kondisi jantung, kesehatan paru-paru yang tersisa, dan kebugaran pasien ikut menentukan kemampuan setelah operasi. Karena itu, evaluasi sebelum pneumonektomi dilakukan dengan serius. Pemulihan juga membutuhkan waktu dan dapat melibatkan latihan pernapasan serta rehabilitasi. Jadi, satu paru-paru yang berfungsi baik dapat menopang kehidupan, tetapi pengangkatan paru-paru tetap merupakan prosedur medis besar.

Tubuh Beradaptasi Setelah Kehilangan Satu Paru-Paru

Adaptasi setelah pneumonektomi memperlihatkan kemampuan tubuh menyesuaikan diri terhadap perubahan besar. Setelah satu paru-paru diangkat, ruang di dalam rongga dada mengalami perubahan secara bertahap. Organ dan struktur di sekitarnya dapat menyesuaikan posisi. Sementara itu, paru-paru yang tersisa menjalankan fungsi pernapasan untuk tubuh. Namun, tingkat adaptasi tidak sama pada setiap pasien. Seseorang dengan paru-paru tersisa yang sehat mungkin dapat melakukan banyak aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, penyakit paru atau masalah jantung dapat membatasi kemampuan fisik lebih jauh. Karena itu, klaim bahwa manusia bisa hidup “normal” dengan satu paru-paru perlu diberi konteks. Banyak orang memang dapat hidup setelah pneumonektomi, tetapi kualitas aktivitas dan kemampuan olahraga dapat berubah. Pemantauan dokter tetap penting untuk menilai fungsi pernapasan selama pemulihan.

6. Sebagian Hati Bisa Diangkat karena Mampu Beregenerasi

Hati memiliki kemampuan yang sangat berbeda dibandingkan banyak organ lain. Sebagian hati dapat diangkat, sedangkan jaringan yang tersisa mampu mengalami regenerasi. Kemampuan tersebut memungkinkan transplantasi hati dari donor hidup. Johns Hopkins menjelaskan bahwa donor dapat memberikan sebagian hati selama bagian yang tersisa cukup untuk menjaga keselamatan dan kesehatan jangka panjangnya. Setelah operasi, proses regenerasi dimulai dengan cepat. Dalam program donor Johns Hopkins, hati donor dapat kembali mendekati ukuran normal dalam hitungan minggu. Namun, ada perbedaan penting: manusia tidak dapat hidup tanpa hati yang berfungsi sama sekali. Yang dapat diangkat adalah sebagian jaringan hati, bukan seluruh hati tanpa transplantasi pengganti. Karena itu, hati lebih tepat dimasukkan sebagai organ yang dapat direseksi sebagian daripada organ yang dapat sepenuhnya dihilangkan.

Regenerasi Hati Bukan Berarti Operasinya Tanpa Risiko

Kemampuan regenerasi hati terdengar luar biasa, tetapi tidak boleh disalahartikan sebagai operasi sederhana. Donasi hati dari orang hidup tetap termasuk operasi besar. Risiko dapat mencakup perdarahan, infeksi, pembekuan darah, masalah saluran empedu, dan komplikasi lainnya. Dalam kasus langka, komplikasi serius juga dapat terjadi. Oleh karena itu, calon donor menjalani evaluasi medis yang ketat. Tim transplantasi juga menghitung berapa banyak jaringan yang dapat diambil sekaligus memastikan donor memiliki hati yang cukup setelah operasi. Johns Hopkins mencatat ukuran bagian yang didonasikan dapat berbeda sesuai kebutuhan penerima dan anatomi donor. Fakta ini memperlihatkan bahwa kemampuan regenerasi bukan berarti hati bisa dipotong sembarangan. Prosesnya membutuhkan perencanaan, fasilitas medis, dan pemantauan khusus.

Lambung dan Usus Juga Bisa Direseksi, tetapi Lebih Kompleks

Selain enam contoh tersebut, bagian lambung dan usus juga dapat diangkat dalam kondisi medis tertentu. Namun, dampaknya jauh lebih bergantung pada seberapa banyak jaringan yang diambil dan bagian mana yang terkena. Misalnya, pengangkatan usus kecil dalam jumlah besar dapat mengganggu kemampuan tubuh menyerap nutrisi dan cairan. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah short bowel syndrome. Dalam kondisi tersebut, panjang usus yang tersisa tidak cukup untuk melakukan penyerapan secara optimal. Pasien mungkin membutuhkan strategi nutrisi khusus dan pengawasan medis jangka panjang. Karena itu, kemampuan tubuh beradaptasi memiliki batas. Pernyataan bahwa manusia dapat hidup setelah bagian saluran pencernaan diangkat memang benar dalam konteks tertentu. Namun, semakin besar reseksi tidak berarti tubuh akan selalu mudah menyesuaikan diri. Dampaknya ditentukan oleh lokasi operasi, panjang jaringan yang tersisa, kondisi pasien, serta keberhasilan proses adaptasi.

Bisa Hidup Tanpa Organ Bukan Berarti Organ Itu Tidak Penting

Daftar organ yang bisa diangkat sering terdengar mengejutkan. Namun, ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Kemampuan manusia bertahan tanpa organ tertentu tidak berarti organ tersebut tidak memiliki fungsi. Limpa tetap berperan dalam pertahanan tubuh. Kandung empedu membantu penyimpanan empedu. Appendix memiliki jaringan imun. Ginjal, paru-paru, dan hati bahkan menjalankan fungsi vital. Perbedaannya terletak pada kemampuan tubuh melakukan kompensasi. Satu ginjal dapat meningkatkan beban kerjanya. Satu paru-paru dapat menopang pertukaran gas dalam kondisi tertentu. Sementara itu, hati memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa. Oleh karena itu, pengangkatan organ hanya dilakukan ketika terdapat alasan medis yang jelas atau dalam prosedur donor yang telah melalui evaluasi. Fakta sebenarnya bukan bahwa tubuh memiliki “organ tidak berguna”. Hal yang lebih menarik adalah tubuh manusia memiliki cadangan fungsi dan kemampuan adaptasi yang memungkinkan kehidupan terus berjalan setelah perubahan besar.