Tes IQ AI 2026, OpenAI dan Grok Jadi Model AI Paling Pintar

Tes IQ AI 2026, OpenAI dan Grok Jadi Model AI Paling Pintar

Sorotan Hari Ini – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence terus bergerak sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, xAI milik Elon Musk, Google DeepMind, hingga Anthropic kini saling berlomba menghadirkan model AI yang semakin pintar dan efisien. Setiap peluncuran model terbaru hampir selalu disertai benchmark atau pengujian performa untuk menunjukkan kemampuan produk mereka dibanding rival lain. Di tengah persaingan tersebut, hasil pengujian terbaru dari Tracking AI pada April 2026 langsung menjadi perhatian dunia teknologi. Platform tersebut melakukan tes IQ terhadap puluhan model AI menggunakan standar Mensa Norwegia. Hasilnya memperlihatkan bagaimana persaingan AI kini sudah masuk ke tahap yang jauh lebih serius dibanding beberapa tahun lalu. Menariknya, dua model AI berhasil meraih skor tertinggi secara bersamaan, yakni Grok-4.20 Expert Mode dan OpenAI GPT-5.4 Pro Vision dengan skor IQ mencapai 145. Angka tersebut bahkan melampaui skor tertinggi tahun sebelumnya yang hanya berada di level 135.

Tes IQ AI Jadi Cara Baru Mengukur Kepintaran Model

Tes IQ AI kini mulai sering digunakan sebagai metode pembanding untuk melihat kemampuan penalaran model kecerdasan buatan modern. Dalam pengujian terbaru ini, Tracking AI menggunakan tes Mensa Norwegia yang dikenal cukup menantang karena berisi 35 teka-teki pola visual. Tes semacam ini biasanya dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir logis, mengenali pola, serta menyelesaikan masalah abstrak. Menariknya, metode pengujian antara model berbasis teks dan model multimodal dibuat berbeda. Model non-vision menerima soal dalam bentuk deskripsi verbal, sedangkan model vision mengerjakan gambar asli secara langsung tanpa modifikasi. Perbedaan pendekatan ini menjadi salah satu alasan mengapa model vision cenderung memiliki performa lebih tinggi dalam tes tertentu. Namun demikian, para analis AI menilai hasil tes IQ tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator kecerdasan AI. Sebab, kemampuan model AI modern tidak hanya soal logika visual, tetapi juga melibatkan pemahaman bahasa, kreativitas, hingga kemampuan analisis konteks yang lebih luas.

Baca juga: Standar Baru Gaming PC: RAM 32 GB Kini Direkomendasikan Microsoft

Grok dan OpenAI Sama-Sama Duduki Posisi Pertama

Tes IQ AI tahun 2026 menghasilkan persaingan yang sangat ketat di posisi puncak. Grok-4.20 Expert Mode milik xAI dan OpenAI GPT-5.4 Pro Vision sama-sama mencatat skor 145. Visual Capitalist akhirnya menempatkan keduanya di posisi pertama secara bersamaan. Situasi ini cukup menarik karena menunjukkan bahwa dominasi AI saat ini tidak lagi hanya dimiliki satu perusahaan. Grok yang sebelumnya lebih dikenal karena integrasinya dengan platform X milik Elon Musk kini mulai dianggap sebagai pesaing serius OpenAI. Di sisi lain, OpenAI tetap mempertahankan reputasinya sebagai salah satu perusahaan AI paling inovatif di dunia. Banyak pengamat teknologi menilai persaingan antara kedua perusahaan ini akan semakin sengit dalam beberapa tahun ke depan. Apalagi perkembangan AI kini tidak hanya soal chatbot, tetapi juga mulai masuk ke bidang robotika, riset ilmiah, kesehatan, dan keamanan siber. Dengan kata lain, skor IQ tinggi bukan hanya simbol prestise, tetapi juga cerminan kemampuan teknologi yang dapat memengaruhi banyak sektor industri global.

Gemini 3.1 Pro Preview Tempel Ketat di Posisi Atas

Tes IQ AI juga memperlihatkan performa impresif dari Gemini 3.1 Pro Preview milik Google yang berhasil meraih skor 141. Model ini hanya terpaut sedikit dari Grok dan GPT-5.4 Pro Vision. Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa Google masih menjadi salah satu pemain utama dalam perlombaan AI global. Banyak analis menilai Gemini memiliki kekuatan besar dalam pemrosesan multimodal dan integrasi ekosistem digital Google yang sangat luas. Selain itu, perkembangan Gemini juga menunjukkan bahwa persaingan AI kini semakin kompetitif karena hampir semua perusahaan besar mampu menghasilkan model dengan performa tinggi. Situasi ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika dominasi OpenAI terlihat jauh lebih kuat. Kini, publik mulai melihat adanya keseimbangan baru dalam industri AI. Persaingan ketat tersebut pada akhirnya dapat memberikan keuntungan bagi pengguna karena perusahaan akan terus berusaha menghadirkan inovasi terbaik dengan kemampuan yang semakin canggih dan akurat.

Model AI China Mulai Menunjukkan Taringnya

Tes IQ AI tahun ini juga memperlihatkan kebangkitan model-model AI asal China. Qwen 3.5 buatan Alibaba berhasil masuk 10 besar dengan skor 130. Selain itu, DeepSeek R1 dan DeepSeek V3 juga berhasil masuk dalam daftar AI dengan skor tinggi. Kehadiran model-model China ini menunjukkan bahwa persaingan AI global kini tidak lagi didominasi perusahaan Amerika Serikat saja. Dalam beberapa tahun terakhir, China memang mempercepat investasi di bidang AI dengan dukungan besar dari pemerintah maupun sektor swasta. Banyak pengamat percaya bahwa dalam jangka panjang, persaingan AI antara Amerika dan China bisa menjadi salah satu rivalitas teknologi terbesar abad ini. Menariknya, model-model China mulai dikenal memiliki efisiensi tinggi dengan biaya pengembangan yang relatif lebih rendah dibanding beberapa model Barat. Faktor ini membuat banyak perusahaan dan negara berkembang mulai melirik AI asal China sebagai alternatif yang lebih ekonomis namun tetap kompetitif.

Mengapa Model Vision Lebih Unggul dalam Tes IQ?

Tes IQ AI terbaru juga memunculkan satu fakta menarik, yaitu dominasi model vision dibanding model berbasis teks biasa. Model vision dapat mengerjakan gambar asli secara langsung sehingga lebih unggul dalam membaca pola visual. Sementara itu, model non-vision hanya menerima deskripsi verbal dari soal yang sama. Perbedaan metode ini membuat hasil akhirnya cukup mencolok. Salah satu contoh paling mengejutkan adalah GPT-5.4 Pro non-vision yang hanya mendapat skor 73, jauh di bawah versi vision-nya yang mencapai 145. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami gambar menjadi faktor penting dalam pengujian berbasis pola visual. Banyak ahli AI menilai era kecerdasan buatan kini memang bergerak menuju sistem multimodal. Artinya, AI tidak lagi hanya memahami teks, tetapi juga gambar, video, suara, dan bahkan interaksi dunia nyata secara bersamaan. Kemampuan multimodal inilah yang diyakini akan menjadi fondasi utama AI generasi masa depan.

Baca juga: Bocoran Samsung Galaxy S27 Ultra: Strategi Baru Kamera yang Mengejutkan Pengguna

Tracking AI Terapkan Aturan Ketat dalam Pengujian

Tes IQ AI yang dilakukan Tracking AI tidak dilakukan secara sembarangan. Platform tersebut menerapkan aturan khusus agar hasil pengujian tetap konsisten dan adil. Salah satu aturan uniknya adalah ketika model AI menolak menjawab soal tertentu, pertanyaan akan diulang hingga maksimal 10 kali. Jawaban terakhir yang diberikan model kemudian digunakan sebagai hasil penilaian resmi. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi bias akibat sistem keamanan atau kebijakan internal model AI yang kadang menolak menjawab pertanyaan tertentu. Selain itu, penggunaan tes Mensa Norwegia juga dipilih karena dianggap cukup netral dan mampu mengukur kemampuan pola logika visual secara efektif. Namun demikian, para peneliti tetap mengingatkan bahwa skor IQ AI tidak bisa dianggap sebagai ukuran mutlak kecerdasan mesin. Sebab, AI modern memiliki banyak aspek kemampuan lain yang tidak tercakup dalam tes semacam ini.

Skor IQ Tinggi Belum Tentu Jadi AI Terbaik

Tes IQ AI memang menarik perhatian publik, tetapi banyak ahli mengingatkan bahwa skor tinggi belum tentu berarti model tersebut menjadi AI terbaik secara keseluruhan. Tes IQ hanya mengukur satu aspek tertentu, yaitu kemampuan mengenali pola dan berpikir logis. Padahal, dalam penggunaan sehari-hari, AI juga membutuhkan kemampuan memahami konteks, kreativitas, empati bahasa, hingga akurasi informasi. Sebagai contoh, ada model AI yang memiliki skor IQ tinggi tetapi masih sering menghasilkan halusinasi atau jawaban tidak akurat. Sebaliknya, ada model dengan skor lebih rendah tetapi lebih stabil dalam penggunaan praktis. Oleh karena itu, benchmark IQ sebaiknya dilihat sebagai alat pembanding tambahan, bukan penentu mutlak kualitas AI. Banyak pengguna profesional kini justru lebih fokus pada efisiensi, kecepatan, keamanan data, dan konsistensi jawaban dibanding sekadar skor tes kecerdasan.

Persaingan AI Diprediksi Semakin Panas di Masa Depan

Tes IQ AI tahun 2026 menjadi bukti bahwa perlombaan kecerdasan buatan kini memasuki fase baru yang jauh lebih kompetitif. OpenAI, xAI, Google, Anthropic, Meta, hingga perusahaan China kini saling berlomba menciptakan model yang lebih pintar dan lebih manusiawi. Dalam beberapa tahun ke depan, persaingan ini diperkirakan akan semakin panas karena AI mulai menjadi teknologi inti di hampir semua sektor industri. Dunia pendidikan, kesehatan, finansial, militer, hingga hiburan kini mulai bergantung pada perkembangan AI. Oleh sebab itu, perusahaan yang mampu menciptakan AI paling cerdas dan paling stabil kemungkinan akan memiliki pengaruh besar terhadap arah teknologi global di masa depan. Di sisi lain, masyarakat juga mulai dihadapkan pada tantangan baru terkait etika, keamanan, dan dampak sosial dari perkembangan AI yang semakin cepat.