Prakanker Serviks Sering Tanpa Gejala, Kenali Pentingnya Skrining

Prakanker Serviks Sering Tanpa Gejala, Kenali Pentingnya Skrining

Sorotan Hari IniPrakanker serviks sering berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Seseorang bahkan dapat merasa sehat ketika perubahan abnormal pada sel-sel leher rahim sudah terjadi.

Kondisi inilah yang membuat skrining memiliki peran penting. Pemeriksaan tidak dilakukan hanya ketika muncul keluhan. Sebaliknya, skrining bertujuan menemukan perubahan sel pada orang yang belum menunjukkan gejala.

Sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi human papillomavirus atau HPV risiko tinggi yang menetap. Namun, infeksi HPV sangat umum dan sebagian besar dapat dikendalikan tubuh tanpa berkembang menjadi kanker.

Baca Juga: Menjaga Kepadatan Tulang Tetap Optimal di Usia Lanjut

Prakanker Serviks Bukan Berarti Sudah Mengalami Kanker

Istilah prakanker terkadang terdengar menakutkan. Padahal, diagnosis prakanker tidak sama dengan diagnosis kanker serviks.

Prakanker menggambarkan perubahan abnormal pada sel serviks yang memiliki kemungkinan berkembang lebih lanjut jika tidak ditangani. Tingkat perubahan tersebut juga dapat berbeda antara satu pasien dengan pasien lainnya.

Dengan demikian, hasil skrining abnormal tidak otomatis berarti seseorang menderita kanker.

Justru, menemukan perubahan sel pada tahap prakanker memberikan kesempatan untuk melakukan evaluasi dan penanganan sebelum berkembang menjadi penyakit invasif.

WHO menegaskan bahwa skrining dan penanganan lesi prakanker merupakan bagian penting dalam pencegahan kanker serviks.

Mengapa Prakanker Serviks Sering Tidak Menimbulkan Gejala?

Salah satu karakteristik penting prakanker serviks adalah kondisi ini biasanya tidak menyebabkan gejala yang jelas.

Perubahan sel dapat berlangsung perlahan tanpa menyebabkan rasa sakit, perdarahan, atau keluhan lain. Karena itu, seseorang tidak dapat mengandalkan kondisi tubuh yang terasa sehat sebagai satu-satunya tanda bahwa serviks tidak bermasalah.

WHO menyebut prakanker serviks jarang menimbulkan gejala. Bahkan, infeksi HPV yang menjadi penyebab utama perubahan tersebut juga biasanya berlangsung tanpa gejala.

Inilah alasan skrining menjadi penting. Pemeriksaan bertujuan menemukan perubahan sebelum seseorang menyadarinya melalui gejala.

Infeksi HPV Memiliki Hubungan Erat dengan Perubahan Sel Serviks

HPV merupakan kelompok virus yang sangat umum. Hampir semua orang yang aktif secara seksual dapat terpapar HPV pada suatu titik dalam hidupnya.

Namun, terinfeksi HPV tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kanker serviks. Pada sekitar 90 persen orang, tubuh dapat mengendalikan infeksi tersebut dengan sendirinya.

Masalah dapat muncul ketika infeksi HPV tipe berisiko tinggi menetap dalam jangka panjang.

Infeksi persisten tersebut dapat menyebabkan perubahan abnormal pada sel serviks. Selanjutnya, sebagian perubahan dapat berkembang menjadi lesi prakanker.

WHO memperkirakan proses dari perubahan abnormal hingga kanker umumnya membutuhkan sekitar 15–20 tahun. Pada individu dengan sistem kekebalan yang melemah, proses tersebut dapat berlangsung lebih cepat.

Skrining Mencari Masalah Sebelum Keluhan Muncul

Perbedaan penting perlu dipahami antara skrining dan pemeriksaan karena gejala.

Skrining dilakukan ketika seseorang belum memiliki keluhan. Tujuannya adalah mencari perubahan yang berpotensi berkembang menjadi penyakit.

Sementara itu, seseorang yang sudah mengalami gejala tertentu memerlukan evaluasi medis. Kondisi tersebut tidak seharusnya hanya menunggu jadwal skrining rutin.

Dalam pemeriksaan serviks, metode yang digunakan dapat berupa tes HPV, sitologi atau Pap smear, maupun kombinasi keduanya. Metode yang direkomendasikan dapat berbeda menurut usia, faktor risiko, riwayat pemeriksaan, dan pedoman nasional.

Oleh sebab itu, jadwal pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan rekomendasi tenaga kesehatan dan program skrining yang berlaku.

Tes HPV dan Pap Smear Memeriksa Hal yang Berbeda

Tes HPV dan Pap smear memiliki tujuan yang berkaitan. Namun, kedua pemeriksaan tersebut mendeteksi hal yang berbeda.

Pemeriksaan HPV digunakan untuk mendeteksi tipe HPV risiko tinggi yang berkaitan dengan kanker serviks. Sementara itu, Pap smear atau pemeriksaan sitologi bertujuan menemukan perubahan abnormal pada sel serviks.

Pada kelompok usia tertentu, kedua metode tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan. Pemilihan pemeriksaan biasanya mempertimbangkan usia, riwayat skrining, serta faktor risiko lainnya.

Pedoman internasional juga semakin memberikan perhatian pada pemeriksaan berbasis HPV. WHO menyebut tes HPV sebagai modalitas yang diutamakan dalam skrining kanker serviks.

Namun, hasil HPV positif bukan diagnosis kanker. Hasil tersebut menunjukkan adanya infeksi yang mungkin membutuhkan pemeriksaan atau pemantauan lebih lanjut sesuai jenis HPV dan kondisi pasien.

Hasil Skrining Abnormal Belum Tentu Kanker

Mendapatkan hasil pemeriksaan serviks yang abnormal dapat memicu kekhawatiran. Namun, penting untuk memahami arti hasil tersebut secara proporsional.

Hasil abnormal dapat menunjukkan perubahan sel atau keberadaan HPV risiko tinggi. Dokter kemudian menentukan apakah pasien membutuhkan pemantauan, pemeriksaan tambahan, atau tindakan tertentu.

Salah satu pemeriksaan lanjutan yang dapat digunakan adalah kolposkopi. Prosedur ini memungkinkan tenaga medis melihat serviks dengan pembesaran sehingga area yang mencurigakan dapat dievaluasi lebih jelas.

Dalam kondisi tertentu, biopsi juga diperlukan untuk menentukan jenis dan tingkat perubahan jaringan.

Karena itu, hasil skrining merupakan awal dari proses evaluasi. Diagnosis tidak seharusnya dibuat hanya berdasarkan satu informasi tanpa mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan.

Kolposkopi Membantu Mengevaluasi Area yang Mencurigakan

Kolposkopi memiliki peran penting setelah hasil skrining tertentu menunjukkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut.

Saat prosedur dilakukan, dokter menggunakan alat pembesar untuk mengamati permukaan serviks. Larutan tertentu juga dapat diaplikasikan untuk membantu menonjolkan area abnormal.

Jika ditemukan bagian yang mencurigakan, dokter dapat mengambil sampel jaringan atau biopsi.

Hasil pemeriksaan jaringan kemudian membantu menentukan apakah terdapat lesi prakanker serta tingkat keparahannya.

Namun, kebutuhan kolposkopi tidak sama untuk setiap pasien. Keputusan bergantung pada hasil skrining, tipe HPV, temuan sitologi, usia, riwayat sebelumnya, serta faktor klinis lainnya.

WHO juga memasukkan pemeriksaan serviks setelah skrining positif sebagai bagian dari proses menemukan perubahan prakanker dan menentukan penanganan yang sesuai.

Prakanker Dapat Ditangani Sebelum Berkembang Lebih Jauh

Salah satu alasan utama skrining begitu penting adalah adanya kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum kanker invasif terbentuk.

Tidak semua perubahan sel membutuhkan tindakan yang sama. Sebagian perubahan dapat dipantau, sedangkan lesi dengan risiko lebih tinggi mungkin memerlukan terapi.

Pilihan penanganan dapat mencakup metode ablasi yang menghancurkan jaringan abnormal atau prosedur eksisi yang mengangkat area tersebut.

WHO mencantumkan antara lain ablasi termal, krioterapi, serta LEEP atau LLETZ sebagai metode yang dapat digunakan pada kondisi yang sesuai.

Pemilihan tindakan tidak dapat disamaratakan. Dokter perlu mempertimbangkan karakteristik lesi, hasil pemeriksaan, kondisi pasien, dan faktor klinis lainnya.

Vaksin HPV dan Skrining Memiliki Fungsi yang Saling Melengkapi

Vaksinasi HPV merupakan salah satu langkah utama dalam pencegahan kanker serviks.

Vaksin bekerja dengan mencegah infeksi tipe HPV tertentu yang berisiko menyebabkan kanker. WHO memprioritaskan vaksinasi HPV pada anak perempuan usia 9–14 tahun sebelum paparan terhadap virus.

Namun, vaksinasi tidak berarti skrining dapat diabaikan.

WHO tetap merekomendasikan skrining serviks bagi perempuan yang telah mendapatkan vaksin HPV. Hal tersebut penting karena vaksin tidak menghilangkan seluruh kemungkinan terjadinya perubahan sel serviks.

Dengan demikian, vaksinasi dan skrining bukan dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya menjadi bagian dari strategi pencegahan yang saling melengkapi.

Jangan Menunggu Gejala untuk Memeriksakan Serviks

Menunggu munculnya gejala merupakan pendekatan yang kurang tepat untuk mendeteksi prakanker.

Perubahan prakanker justru biasanya tidak menimbulkan keluhan. Bahkan kanker serviks stadium awal dapat tidak menyebabkan gejala.

Ketika kanker serviks sudah berkembang, gejala dapat berupa perdarahan vagina yang tidak biasa, termasuk perdarahan setelah hubungan seksual, atau perubahan pada cairan vagina. Namun, keluhan tersebut juga dapat disebabkan kondisi lain.

Karena itu, munculnya gejala bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker. Sebaliknya, keluhan yang tidak biasa perlu diperiksakan agar penyebabnya dapat diketahui.

Skrining rutin tetap menjadi cara penting untuk menemukan perubahan sebelum gejala muncul.

Skrining Memberikan Kesempatan Menemukan Perubahan Lebih Awal

Pesan terpenting mengenai prakanker serviks bukanlah untuk menimbulkan ketakutan. Sebaliknya, kondisi ini menunjukkan mengapa pencegahan dan deteksi dini sangat berarti.

Perubahan sel serviks dapat ditemukan ketika seseorang masih merasa sehat. Jika ditemukan, tenaga medis dapat menentukan apakah kondisi cukup dipantau atau membutuhkan tindakan.

WHO menargetkan sedikitnya 70 persen perempuan menjalani skrining menggunakan tes berkinerja tinggi pada usia 35 dan 45 tahun sebagai bagian dari strategi global eliminasi kanker serviks. Pedoman nasional dapat memiliki jadwal yang berbeda berdasarkan usia dan tingkat risiko.

Oleh karena itu, keputusan mengenai kapan dan seberapa sering melakukan skrining sebaiknya mengikuti pedoman kesehatan yang berlaku serta rekomendasi dokter.

Pada akhirnya, tidak adanya gejala bukan jaminan bahwa tidak terdapat perubahan pada serviks. Justru karena prakanker serviks sering tidak terasa, skrining menjadi salah satu kesempatan terbaik untuk menemukan perubahan lebih awal dan mencegah perkembangannya menjadi kanker.