Ini Raja Belanda saat Krakatau Meletus 1883, Monumennya Masih Ada
Sorotan Hari Ini – Raja Belanda saat Krakatau meletus 1883 adalah Willem III, penguasa Belanda yang bertakhta sejak 1849 hingga meninggal pada 1890. Pada periode itu, wilayah yang sekarang menjadi Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Karena itu, bencana Krakatau bukan hanya menjadi catatan sejarah alam Nusantara, tetapi juga bagian dari sejarah kolonial pada masa pemerintahan Willem III. Letusan besar mencapai fase paling dahsyat pada 26–27 Agustus 1883. Dampaknya kemudian menyebar jauh melampaui kawasan Selat Sunda. Lebih dari 36.000 orang meninggal, dengan tsunami sebagai penyebab utama sebagian besar korban. Gelombang dan material vulkanik menghancurkan banyak kawasan pesisir di Jawa dan Sumatra. Bahkan, fenomena atmosfer akibat letusan tersebut tercatat di berbagai tempat di dunia. Bencana ini akhirnya meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan hingga sekarang, salah satunya melalui Mercusuar Cikoneng di kawasan Anyer, Banten.
Baca Juga: Dendam Lama Membara, Pria Surabaya Habisi Pembunuh Ibunya di Sampang
Dahsyatnya Krakatau Mengguncang Dunia pada Agustus 1883
Skala letusan Krakatau membuat peristiwa 1883 berbeda dari bencana vulkanik biasa. Ledakan besar menghasilkan tsunami yang menerjang kawasan di sekitar Selat Sunda. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 36.000 korban meninggal, terutama akibat tsunami di pesisir Sumatra dan Jawa. Sementara itu, USGS mencatat angka korban sekitar 36.000, dengan estimasi lain mencapai 36.417 jiwa. Suara ledakan pun menjangkau wilayah yang sangat jauh. Penduduk Pulau Rodrigues di Samudra Hindia, hampir 5.000 kilometer dari Krakatau, dilaporkan mendengar suara yang awalnya mereka kira sebagai tembakan meriam. Karena itu, Krakatau kemudian dikenal sebagai salah satu peristiwa vulkanik paling terkenal dalam sejarah modern. Bagi masyarakat pesisir Banten saat itu, dampaknya tentu jauh lebih nyata. Permukiman, fasilitas, serta infrastruktur di sekitar pantai menghadapi kehancuran yang sangat besar.
Willem III Telah Berkuasa Sejak Tahun 1849
Willem III berasal dari Wangsa Orange-Nassau dan naik takhta pada 1849 setelah kematian ayahnya, Willem II. Dengan demikian, ketika Krakatau mengalami letusan katastropik pada 1883, ia sudah memerintah selama lebih dari tiga dekade. Willem III juga menyandang gelar Grand Duke of Luxembourg. Pemerintahannya berlangsung sampai ia meninggal pada 23 November 1890. Dalam sejarah politik Eropa, ia dikenal memiliki pandangan yang cenderung konservatif dan reaksioner terhadap pembatasan kekuasaan monarki. Masa pemerintahannya juga melewati perubahan besar dalam hubungan antara raja, parlemen, dan sistem konstitusional. Salah satu episode penting terjadi ketika Krisis Luksemburg memuncak pada 1867. Napoleon III dari Prancis ingin memperoleh Luksemburg, sementara Prusia menentangnya. Perselisihan itu akhirnya diselesaikan melalui kesepakatan internasional yang mempertahankan kemerdekaan dan netralitas Luksemburg.
Krakatau Menghancurkan Mercusuar Lama di Pesisir Anyer
Jauh sebelum wisata pantai berkembang seperti sekarang, perairan Anyer memiliki posisi penting bagi lalu lintas kapal di Selat Sunda. Sebuah mercusuar telah berdiri di kawasan tersebut sebelum bencana Krakatau. Namun, tsunami yang menyertai letusan 1883 menghancurkan mercusuar lama itu. Kehancuran tersebut menunjukkan betapa kuatnya gelombang yang menghantam pesisir barat Jawa. Catatan sejarah mengenai Mercusuar Anyer menyebut bangunan penggantinya kemudian selesai pada 1885. Sumber dokumentasi UNESCO mengenai Jalan Raya Pos juga menjelaskan bahwa mercusuar 1885 dibangun sebagai pengganti mercusuar lama yang hancur akibat tsunami Krakatau. Jadi, menara yang terlihat saat ini bukan bangunan yang selamat secara utuh dari bencana 1883. Justru sebaliknya, bangunan itu merupakan penerus dari fasilitas navigasi yang hilang akibat bencana. Fakta tersebut membuat Mercusuar Cikoneng mempunyai nilai sejarah yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat wisata di tepi laut.
Mercusuar Baru Berdiri pada Masa Pemerintahan Willem III
Dua tahun setelah bencana, mercusuar pengganti berdiri pada 1885 ketika Willem III masih menjadi Raja Belanda. Jejak pemerintahannya bahkan dapat ditemukan pada prasasti di bagian bangunan. Tulisan berbahasa Belanda di atas pintu menyebut “Z.M. Willem III, Koning der Nederlanden” dan menjelaskan bahwa bangunan tersebut didirikan untuk menggantikan mercusuar batu yang hancur dalam bencana Krakatau pada 1883. Oleh sebab itu, hubungan Willem III dengan mercusuar tersebut memiliki dasar historis yang terlihat langsung pada bangunannya. Namun, ada baiknya membedakan antara fakta prasasti dan cerita populer. Bukti yang tersedia dengan jelas menunjukkan mercusuar dibangun pada masa pemerintahannya. Sementara itu, klaim bahwa raja secara pribadi mengeluarkan perintah pembangunan membutuhkan sumber primer yang lebih spesifik. Bagi saya, detail seperti ini penting agar cerita sejarah tetap menarik tanpa mengorbankan akurasi.
Mercusuar Cikoneng Masih Menjulang di Anyer
Kini bangunan tersebut dikenal luas sebagai Mercusuar Cikoneng atau Mercusuar Anyer. Lokasinya berada di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, kawasan Anyer, Banten. Salah satu sumber pariwisata Indonesia mencatat menara ini memiliki tinggi sekitar 75,5 meter, terdiri atas 18 tingkat, dan mempunyai 286 anak tangga. Menariknya, sumber teknis mengenai mercusuar mencatat tinggi struktur sekitar 58 meter dengan bidang fokus cahaya sekitar 60 meter. Perbedaan angka tersebut kemungkinan muncul karena metode pengukuran atau definisi ketinggian yang digunakan berbeda. Karena itu, angka 75,5 meter sebaiknya dipahami sebagai ukuran yang banyak digunakan dalam sumber pariwisata Indonesia, bukan satu-satunya data teknis. Terlepas dari perbedaan tersebut, menara putih ini tetap menjadi landmark penting di pesisir Anyer. Keberadaannya menghubungkan sejarah pelayaran, kolonialisme, dan bencana Krakatau dalam satu lokasi.
Prasasti Willem III Menjadi Jejak Sejarah yang Penting
Salah satu bagian paling menarik dari Mercusuar Cikoneng bukan hanya bentuk menaranya, melainkan prasasti di atas pintu masuk. Tulisan tersebut menyebut pemerintahan Willem III dan tahun 1885. Selain itu, prasasti menjelaskan hubungan bangunan dengan mercusuar sebelumnya yang hancur dalam bencana Krakatau. Detail tersebut membuat tempat ini seperti dokumen sejarah dalam bentuk bangunan. Pengunjung tidak hanya melihat sebuah mercusuar tua, tetapi juga dapat menemukan hubungan langsung antara bencana alam dan pemerintahan kolonial pada akhir abad ke-19. Dalam konteks E-E-A-T, bukti fisik seperti prasasti menjadi penting karena membantu memisahkan informasi yang dapat diverifikasi dari legenda lokal. Terlebih lagi, berbagai sumber memang memiliki versi berbeda tentang beberapa detail Mercusuar Anyer. Karena itu, membaca tulisan pada bangunan bersama dokumen sejarah memberi gambaran yang lebih hati-hati mengenai asal-usul mercusuar tersebut.
Willem III Digantikan Putrinya, Wilhelmina
Willem III menikah dengan Emma dari Waldeck-Pyrmont pada 1879 setelah istri pertamanya, Sophie dari Württemberg, meninggal pada 1877. Dari pernikahan keduanya lahir Wilhelmina pada 1880. Setelah Willem III meninggal pada 23 November 1890, Wilhelmina menjadi Ratu Belanda. Karena usianya masih muda, Emma menjalankan peran sebagai wali raja sampai Wilhelmina cukup umur. Suksesi ini juga membawa perubahan bagi Luksemburg. Aturan pewarisan yang berbeda membuat mahkota Luksemburg tidak jatuh kepada Wilhelmina. Sebaliknya, Adolphe dari Nassau menjadi Grand Duke, sehingga hubungan personal antara mahkota Belanda dan Luksemburg berakhir. Dengan demikian, Willem III bukan hanya raja yang memerintah ketika Krakatau meletus. Ia juga menjadi figur pada penghujung sebuah fase penting monarki Belanda. Sementara itu, di Anyer, namanya tetap bertahan melalui prasasti sebuah mercusuar yang dibangun lima tahun sebelum kematiannya.
Mercusuar Anyer Menghubungkan Bencana, Pelayaran, dan Sejarah
Lebih dari satu abad setelah Krakatau meletus, Mercusuar Cikoneng tetap memiliki daya tarik karena menyimpan beberapa lapisan sejarah sekaligus. Bangunan tersebut berkaitan dengan navigasi Selat Sunda, kehancuran akibat tsunami 1883, serta pembangunan kembali pada masa Willem III. Kawasan ini juga sering dikaitkan dengan titik nol Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan. Namun, hubungan antara mercusuar yang berdiri sekarang dan pembangunan awal Jalan Raya Pos perlu dipahami secara kronologis. Menara yang terlihat hari ini baru dibangun pada 1885, sedangkan proyek Jalan Raya Pos berlangsung jauh lebih awal pada masa Herman Willem Daendels. Oleh sebab itu, mercusuar saat ini tidak mungkin menjadi bangunan asli yang menandai dimulainya proyek tersebut. Meski demikian, lokasinya tetap menjadi ruang penting untuk membaca perjalanan sejarah Anyer. Dari satu menara putih di tepi Selat Sunda, pengunjung dapat melihat bagaimana bencana alam, kolonialisme, pelayaran, dan ingatan sejarah saling bertemu.
