Penjualan Pertamax Green 95 Naik 446 Persen, Capai 132 KL
Sorotan Hari Ini – Penjualan Pertamax Green 95 mencatat kenaikan tajam sepanjang 2026. PT Pertamina Patra Niaga menyebut rata-rata penjualan harian produk ini mencapai 132 kiloliter per hari. Angka tersebut melonjak 446 persen dibandingkan rata-rata harian 2025 yang sekitar 24 KL per hari. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo menyampaikan data itu dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI pada 8 September 2026. Kenaikan tersebut memberi sinyal bahwa BBM berbasis campuran bioetanol mulai mendapat tempat di pasar. Namun, angka 446 persen perlu dibaca dengan tepat. Persentase itu membandingkan rata-rata harian 2026 dengan rata-rata harian 2025. Sementara itu, penjualan pada Januari 2025 tercatat sekitar 17 KL per hari. Dengan kata lain, angka 17 KL bukan basis langsung untuk perhitungan kenaikan 446 persen. Perbedaan ini penting agar informasi tetap akurat.
Baca Juga: Harga Pangan Mulai Bergerak, Cabai Rawit Merah Sentuh Rp91.300
Pertamax Green 95 Menggunakan Campuran Bioetanol E5
Pertamax Green 95 merupakan BBM nonsubsidi dengan nilai oktan RON 95. Produk ini menggunakan campuran bioetanol sebesar 5 persen atau E5. Pertamina mulai memasarkannya sejak 2023. Kehadiran bioetanol menjadi unsur yang membedakannya dari bensin konvensional. Selain itu, produk ini mengikuti mekanisme harga pasar karena tidak mendapat subsidi. Dari sisi strategi energi, E5 dapat menjadi salah satu tahap awal penggunaan bahan bakar nabati yang lebih luas. Namun, perlu dicatat bahwa penggunaan bioetanol bukan berarti emisi kendaraan langsung menjadi nol. Dampak lingkungan tetap bergantung pada banyak faktor. Misalnya, sumber bahan baku, proses produksi, distribusi, dan efisiensi kendaraan ikut menentukan hasil akhirnya. Karena itu, Pertamax Green 95 lebih tepat dipandang sebagai langkah diversifikasi bahan bakar. Menurut saya, aspek ini penting karena tren konsumsi tidak hanya berbicara soal penjualan. Ada juga perubahan pilihan konsumen dan kesiapan rantai pasok di belakangnya.
Rata-rata Harian Naik dari 24 KL Menjadi 132 KL
Data Pertamina menunjukkan perubahan cukup besar pada rata-rata penjualan harian. Sepanjang 2025, rata-ratanya sekitar 24 KL per hari. Sementara itu, pada periode Januari hingga Agustus 2026, rata-rata tersebut meningkat menjadi 132 KL per hari. Perbandingan inilah yang menghasilkan pertumbuhan sekitar 446 persen. Selain itu, ada angka lain yang juga muncul dalam pemaparan perusahaan. Pada Januari 2025, penjualan harian masih sekitar 17 KL. Kemudian, pada Agustus 2026, penjualan disebut mencapai sekitar 134 KL per hari. Angka 132 KL dan 134 KL tidak bertentangan jika konteksnya dibedakan. Angka 132 KL merujuk pada rata-rata harian periode 2026. Sementara itu, angka sekitar 134 KL menggambarkan posisi pada Agustus 2026. Oleh sebab itu, pembacaan data harus disesuaikan dengan periodenya. Pemisahan ini juga membuat artikel lebih akurat dan tidak menimbulkan kesan bahwa semua angka berasal dari basis yang sama.
Penjualan Total Juga Naik 267 Persen
Selain kenaikan rata-rata harian, tren total Penjualan Pertamax Green 95 juga meningkat. Pertamina mencatat pertumbuhan sekitar 267 persen sejak awal 2025 hingga Agustus 2026. Angka ini berbeda dari pertumbuhan rata-rata harian sebesar 446 persen. Karena itu, keduanya tidak boleh dicampur. Kenaikan total menggambarkan pertumbuhan volume penjualan dalam periode tertentu. Sementara itu, pertumbuhan harian membandingkan rata-rata penjualan per hari. Perbedaan metodologi ini sering membuat pembaca keliru jika angka disajikan tanpa penjelasan. Menurut saya, justru bagian ini perlu mendapat perhatian dalam penulisan berita ekonomi. Angka besar memang menarik untuk judul. Namun, konteks membuat data menjadi lebih bermakna. Dalam kasus Pertamax Green 95, dua indikator tersebut sama-sama menunjukkan arah naik. Meski demikian, keduanya mengukur hal yang berbeda. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menganggap kenaikan 267 persen dan 446 persen sebagai dua versi dari data yang sama.
Pertamax Green 95 Kini Tersedia di 190 SPBU
Kenaikan penjualan juga berjalan bersama perluasan jaringan distribusi. Pertamina Patra Niaga menyebut Pertamax Green 95 kini tersedia di 190 SPBU. Namun, jaringan tersebut masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Jawa Barat memiliki jumlah outlet terbesar, yaitu 53 SPBU. Setelah itu, Jawa Timur memiliki 47 SPBU. DKI Jakarta mempunyai 40 SPBU. Sementara itu, Banten memiliki 28 SPBU. Jawa Tengah tercatat memiliki 16 SPBU, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki 6 SPBU. Jika seluruh angka tersebut dijumlahkan, hasilnya tepat 190 SPBU. Sebaran ini menunjukkan bahwa akses konsumen masih belum merata secara nasional. Karena itu, pertumbuhan penjualan saat ini lebih banyak mencerminkan pasar di wilayah Jawa. Hal tersebut penting untuk dicatat. Kenaikan penjualan belum bisa langsung dianggap sebagai gambaran minat seluruh konsumen Indonesia. Menurut saya, perluasan outlet akan menjadi faktor penting jika Pertamina ingin melihat permintaan yang lebih luas di luar pasar yang sudah ada.
Jawa Barat Menjadi Wilayah dengan Outlet Terbanyak
Dari 190 SPBU yang menyediakan Pertamax Green 95, Jawa Barat memiliki jaringan paling besar. Wilayah tersebut mencatat 53 SPBU. Jawa Timur berada di posisi berikutnya dengan 47 SPBU. Sementara itu, DKI Jakarta memiliki 40 SPBU. Sebaran ini memperlihatkan bahwa Jawa bagian barat dan timur menjadi area penting dalam pengembangan produk. Namun, jumlah outlet tidak otomatis menunjukkan volume penjualan tertinggi di tiap provinsi. Data yang tersedia hanya menjelaskan jumlah SPBU. Karena itu, tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa Jawa Barat menjadi pasar terbesar. Penjualan per outlet dapat berbeda sesuai lokasi, jumlah kendaraan, harga, dan perilaku konsumen. Selain itu, ketersediaan produk juga memengaruhi keputusan pembelian. Semakin mudah konsumen menemukan Pertamax Green 95, semakin besar peluang produk tersebut dicoba. Menurut saya, aspek distribusi ini sama pentingnya dengan kampanye produk. Konsumen tidak akan berpindah ke jenis BBM baru jika aksesnya terbatas atau terlalu jauh dari rute harian mereka.
Pasokan Bioetanol Menjadi Kunci Perluasan Jaringan
Pertamina Patra Niaga masih menghadapi tantangan dalam memperluas distribusi. Salah satu faktor utama adalah ketersediaan bioetanol. Mars Ega mengatakan perusahaan terus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM terkait sumber dan penyediaan bioetanol. Hal ini masuk akal karena Pertamax Green 95 membutuhkan campuran etanol sebesar 5 persen. Jika pasokan bioetanol tidak stabil, perluasan outlet juga dapat terhambat. Selain itu, distribusi bahan bakar membutuhkan kesiapan terminal, penyimpanan, transportasi, serta sistem pencampuran. Karena itu, ekspansi tidak hanya bergantung pada permintaan konsumen. Rantai pasok harus tumbuh bersama permintaan. Dalam konteks ini, kenaikan penjualan menjadi sinyal positif. Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga kontinuitas pasokan. Menurut saya, inilah titik yang akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan. Jika suplai mampu mengikuti permintaan, jaringan bisa diperluas secara bertahap. Sebaliknya, keterbatasan pasokan dapat membuat pertumbuhan melambat meski minat konsumen terus naik.
Kapasitas Bioetanol Nasional Masih Menjadi Tantangan
Data terbaru juga menunjukkan kapasitas produksi bioetanol nasional masih terbatas. Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut kapasitas produksi bioetanol saat ini sekitar 70.500 KL. Menurutnya, jumlah tersebut belum cukup jika penggunaan E5 atau E10 diwajibkan secara lebih luas pada 2027. Fakta ini memberi konteks penting bagi pertumbuhan Penjualan Pertamax Green 95. Produk dapat tumbuh cepat di tingkat konsumen. Namun, sisi hulu harus mampu mengikuti. Tanpa kapasitas produksi yang memadai, perluasan penggunaan bioetanol berisiko menghadapi hambatan pasokan. Karena itu, kebijakan bahan bakar tidak bisa hanya berfokus pada sisi permintaan. Investasi produksi, bahan baku, transportasi, dan fasilitas pencampuran juga diperlukan. Menurut saya, hubungan antara permintaan dan pasokan ini akan menjadi faktor penting dalam beberapa tahun ke depan. Pertumbuhan penjualan 2026 memberi sinyal bahwa pasar mulai terbentuk. Namun, keberlanjutan pasar tetap membutuhkan ekosistem produksi yang cukup kuat.
Pertumbuhan Penjualan Menunjukkan Penerimaan yang Mulai Terbentuk
Pertamina menilai kenaikan penjualan menunjukkan Pertamax Green 95 semakin diterima masyarakat. Klaim tersebut memiliki dasar dari sisi tren volume. Rata-rata harian naik tajam, sedangkan total penjualan juga menunjukkan pertumbuhan. Namun, penerimaan pasar tetap perlu dilihat secara hati-hati. Produk baru dapat tumbuh cepat karena basis awalnya masih kecil. Sebagai contoh, rata-rata harian 2025 hanya sekitar 24 KL. Ketika angka awal rendah, kenaikan dalam persentase dapat terlihat sangat besar. Karena itu, pertumbuhan 446 persen memang signifikan, tetapi tetap perlu dibaca bersama volume absolut. Angka 132 KL per hari memberikan gambaran yang lebih konkret. Selain itu, faktor harga, jumlah outlet, kampanye, dan ketersediaan produk dapat memengaruhi tren. Menurut saya, kombinasi angka persentase dan volume memberikan gambaran paling seimbang. Persentase menunjukkan laju pertumbuhan. Sementara itu, volume menunjukkan ukuran pasar yang sebenarnya.
Penjualan Pertamax Green 95 Punya Ruang untuk Terus Tumbuh
Penjualan Pertamax Green 95 menunjukkan perkembangan kuat hingga Agustus 2026. Rata-rata harian mencapai 132 KL per hari. Angka tersebut tumbuh 446 persen dibandingkan rata-rata harian 2025 yang sekitar 24 KL per hari. Sementara itu, total penjualan sejak awal 2025 hingga Agustus 2026 meningkat sekitar 267 persen. Saat ini, produk tersedia di 190 SPBU dan masih berfokus di Pulau Jawa. Karena itu, peluang ekspansi masih terbuka. Namun, perluasan jaringan harus berjalan bersama kesiapan bioetanol. Pasokan, infrastruktur, dan distribusi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Menurut saya, tren ini menarik karena menunjukkan bahwa pasar BBM campuran bioetanol mulai terbentuk. Meski begitu, pertumbuhan jangka panjang belum bisa dinilai hanya dari satu periode. Data lanjutan mengenai volume, jumlah outlet, harga, dan pasokan akan memberi gambaran yang lebih lengkap. Dengan demikian, kenaikan saat ini lebih tepat dibaca sebagai momentum pertumbuhan, bukan jaminan bahwa pola yang sama akan terus berlangsung.
