Sugiono Dorong Kemitraan ASEAN-China Makin Perkuat Stabilitas Kawasan dan Ekonomi Regional

Sugiono Dorong Kemitraan ASEAN-China Makin Perkuat Stabilitas Kawasan dan Ekonomi Regional

Sorotan Hari Ini – Hubungan antara ASEAN dan China terus menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Asia. Di tengah ketidakpastian global, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus menghasilkan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Selain meningkatkan nilai perdagangan, kemitraan ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan rantai pasok, menjaga stabilitas kawasan, serta membuka peluang ekonomi yang lebih merata. Oleh karena itu, Sugiono Dorong Kemitraan ASEAN-China menjadi langkah strategis yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keamanan dan kesejahteraan kawasan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Indonesia Lanjutkan Proyek Gas Natuna, Tetap Berjalan Meski Diprotes China

Sugiono Tekankan Pentingnya Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa kemitraan ekonomi ASEAN dan China harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, keberhasilan kerja sama tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai perdagangan. Sebaliknya, dampak positifnya harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat dunia usaha, dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas. Oleh sebab itu, Sugiono Dorong Kemitraan ASEAN-China agar menghasilkan kebijakan yang inklusif dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, pendekatan tersebut dinilai penting karena kondisi ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perlambatan pertumbuhan hingga ketidakpastian geopolitik. Dengan demikian, kerja sama yang lebih berkualitas akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

ASEAN dan China Miliki Hubungan Ekonomi yang Sangat Besar

Hubungan ekonomi ASEAN dan China berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Nilai perdagangan kedua pihak terus meningkat hingga menjadikan China sebagai salah satu mitra dagang terbesar ASEAN. Bahkan, pada 2024, total perdagangan ASEAN-China mencapai sekitar USD772,4 miliar atau hampir seperlima dari keseluruhan perdagangan ASEAN. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kedua kawasan. Namun demikian, Sugiono mengingatkan bahwa pertumbuhan perdagangan harus diiringi pemerataan manfaat. Oleh karena itu, integrasi ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan pusat-pusat industri besar, melainkan juga pelaku usaha kecil, UMKM, serta masyarakat di berbagai daerah agar pertumbuhan menjadi lebih inklusif.

RCEP dan ACFTA Dinilai Semakin Penting bagi Kawasan

Indonesia turut mendorong penguatan implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Kedua kerja sama tersebut dipandang sebagai instrumen penting untuk meningkatkan integrasi ekonomi kawasan. Selain memperlancar arus perdagangan, keduanya juga membantu memperkuat investasi, memperluas rantai pasok regional, dan meningkatkan daya saing negara-negara anggota. Di sisi lain, dunia usaha membutuhkan kepastian regulasi agar mampu beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global. Karena alasan tersebut, Sugiono menilai RCEP dan ACFTA harus terus dikembangkan agar lebih praktis, adaptif, serta mampu menghadapi tantangan ekonomi masa depan yang semakin kompleks.

Ketahanan Rantai Pasok Menjadi Prioritas Bersama

Gangguan rantai pasok global beberapa tahun terakhir menjadi pelajaran penting bagi banyak negara. Krisis kesehatan, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim telah memperlihatkan bahwa ketahanan logistik memiliki peran strategis terhadap perekonomian. Oleh sebab itu, Sugiono menekankan pentingnya membangun rantai pasok yang lebih tangguh melalui kemitraan ASEAN dan China. Selain meningkatkan efisiensi perdagangan, kerja sama tersebut juga mampu mengurangi risiko kelangkaan bahan baku serta menjaga stabilitas harga di pasar regional. Dengan koordinasi yang lebih baik, kawasan Asia Tenggara dapat menghadapi berbagai guncangan ekonomi dengan kesiapan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Sentralitas ASEAN Dinilai Tetap Menjadi Fondasi Stabilitas

Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dunia, Indonesia kembali menegaskan pentingnya Sentralitas ASEAN sebagai landasan utama stabilitas kawasan. Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan hubungan antarnegara tanpa harus terjebak dalam persaingan kekuatan besar. Selain itu, ASEAN memiliki tradisi diplomasi yang mengedepankan dialog, kerja sama, serta penyelesaian konflik secara damai. Karena itulah, Sugiono mendorong agar seluruh bentuk kemitraan dengan China tetap menghormati prinsip-prinsip tersebut. Dengan menjaga posisi ASEAN sebagai aktor sentral, kawasan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan perdamaian sekaligus menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Kerja Sama Maritim Menjadi Bagian Penting Diplomasi Regional

Selain perdagangan, Sugiono juga menyoroti pentingnya kerja sama maritim dalam hubungan ASEAN dan China. Jalur laut di kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia. Oleh karena itu, stabilitas kawasan maritim berpengaruh langsung terhadap kelancaran distribusi barang, ketahanan energi, hingga keamanan pangan. Indonesia menilai kerja sama di sektor maritim harus terus diperkuat melalui dialog yang konstruktif. Dengan demikian, aktivitas ekonomi dapat berlangsung tanpa gangguan, sementara keamanan pelayaran tetap terjaga demi kepentingan seluruh negara di kawasan.

Penyelesaian Code of Conduct Laut Tiongkok Selatan Terus Didorong

Indonesia kembali menegaskan pentingnya penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut Tiongkok Selatan secara efektif dan substantif. Menurut Sugiono, kesepakatan tersebut harus mengacu pada hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNCLOS 1982. Selain memberikan kepastian hukum, CoC diharapkan mampu mengurangi potensi konflik dan memperkuat rasa saling percaya antarnegara. Langkah ini juga dinilai penting karena kawasan Laut Tiongkok Selatan memiliki nilai strategis bagi perdagangan internasional. Oleh sebab itu, penyelesaian CoC menjadi salah satu agenda diplomasi yang terus mendapat perhatian Indonesia.

Kemitraan ASEAN-China Diproyeksikan Semakin Strategis di Masa Depan

Hubungan ASEAN dan China yang telah memasuki 35 tahun Kemitraan Wicara menunjukkan perkembangan yang semakin matang. Ke depan, tantangan global diperkirakan akan semakin beragam, mulai dari transformasi digital hingga perubahan iklim. Karena itu, kemitraan yang adaptif menjadi kebutuhan utama agar kawasan tetap kompetitif. Indonesia melihat peluang besar untuk memperkuat kolaborasi dalam bidang perdagangan, investasi, teknologi, energi hijau, serta pembangunan berkelanjutan. Jika seluruh negara mampu menjaga komitmen kerja sama yang seimbang, maka Sugiono Dorong Kemitraan ASEAN-China bukan hanya menjadi agenda diplomatik, melainkan juga fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, dan kesejahteraan masyarakat Asia di masa mendatang.