Fakta Mengejutkan Diabetes di Indonesia, Mayoritas Kasus Belum Terdeteksi
Sorotan Hari Ini – Kasus diabetes di Indonesia menjadi perhatian serius karena banyak penderita belum mengetahui kondisi kesehatannya. Penyakit ini sering berkembang perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang jelas. Akibatnya, seseorang bisa menjalani aktivitas seperti biasa meskipun kadar gula darahnya sudah tinggi. Kondisi tersebut membuat diabetes menjadi tantangan besar bagi layanan kesehatan masyarakat. Selain itu, perubahan pola makan dan rendahnya aktivitas fisik turut meningkatkan risiko penyakit metabolik. Banyak orang baru menyadari masalah tersebut setelah mengalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, pemeriksaan sederhana dapat membantu menemukan diabetes lebih awal. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tubuh tidak selalu memberikan tanda ketika gula darah meningkat. Kesadaran terhadap risiko pribadi menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi. Dengan demikian, perhatian terhadap diabetes seharusnya dimulai sebelum muncul keluhan yang lebih berat.
Baca Juga: Nathalia Filgueiras, Pilot Muda di Balik Tragedi Learjet Florida
Data IDF Mengungkap 73,2 Persen Kasus Belum Terdiagnosis
Temuan International Diabetes Federation (IDF) memperlihatkan besarnya persoalan diabetes di Indonesia. Berdasarkan IDF Diabetes Atlas edisi 2025, sekitar 20,4 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada 2024. Namun, sekitar 73,2 persen dari jumlah tersebut diperkirakan belum terdiagnosis. Artinya, hampir 15 juta orang dewasa berpotensi menjalani kehidupan tanpa mengetahui penyakit yang mereka alami. Angka tersebut merupakan estimasi epidemiologis, bukan hasil pemeriksaan seluruh penduduk secara langsung. Lebih jauh, Indonesia menempati posisi kelima dunia berdasarkan jumlah penyandang diabetes dewasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan diabetes tidak hanya berkaitan dengan pengobatan. Sebaliknya, kemampuan menemukan penyakit sejak dini menjadi tantangan yang sama pentingnya. Tanpa pemeriksaan, banyak penderita kehilangan kesempatan untuk mengendalikan gula darah lebih awal. Karena itu, peningkatan akses skrining perlu menjadi perhatian bersama.
Mengapa Banyak Penderita Diabetes Tidak Menyadari Penyakitnya?
Salah satu penyebab diabetes sulit dikenali adalah perkembangan gejalanya yang sering berlangsung perlahan. Terutama pada diabetes tipe 2, peningkatan gula darah dapat terjadi tanpa keluhan mencolok. Seseorang mungkin tetap bekerja, berolahraga, dan menjalankan rutinitas seperti biasanya. Bahkan, sebagian orang menganggap tubuhnya sehat selama tidak merasakan sakit. Padahal, kondisi metabolisme tidak selalu dapat dinilai melalui perasaan sehari-hari. Selain itu, kurangnya pemeriksaan kesehatan membuat perubahan gula darah sulit diketahui. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Em Yunir, juga menyoroti persoalan tersebut pada Juli 2026. Menurut penjelasannya, sebagian penderita baru mengetahui penyakitnya ketika menjalani pemeriksaan untuk masalah kesehatan lain. Situasi ini memperlihatkan pentingnya edukasi mengenai diabetes tanpa gejala. Oleh sebab itu, pemeriksaan berkala menjadi langkah yang lebih dapat diandalkan dibandingkan menunggu tubuh memberikan peringatan.
Gejala Diabetes yang Sering Dianggap Sebagai Kelelahan Biasa
Meskipun sering berkembang tanpa keluhan, diabetes dapat menimbulkan sejumlah gejala yang perlu diperhatikan. Beberapa tanda umum meliputi sering buang air kecil, mudah haus, dan rasa lapar berlebihan. Selain itu, sebagian penderita mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas. Tubuh juga dapat terasa lelah meskipun aktivitas harian tidak terlalu berat. Pada kondisi tertentu, penglihatan menjadi kabur atau luka membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Sayangnya, gejala tersebut sering dianggap sebagai akibat kurang tidur atau kesibukan. Akibatnya, pemeriksaan kesehatan justru tertunda ketika tubuh membutuhkan perhatian. Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami diabetes. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyakit berdasarkan keluhan tertentu. Mengenali perubahan tubuh merupakan langkah awal, sedangkan pemeriksaan gula darah membantu memberikan gambaran kesehatan yang lebih jelas.
Pola Hidup Modern Ikut Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Saat ini, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam dengan duduk di depan layar. Sementara itu, aktivitas fisik sering berkurang karena pekerjaan dan kemudahan transportasi. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis juga dapat meningkatkan asupan kalori harian. Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut berpotensi memicu kenaikan berat badan dan resistensi insulin. Namun, diabetes tipe 2 tidak hanya dialami orang dengan berat badan berlebih. Faktor usia, riwayat keluarga, serta kondisi metabolisme turut memengaruhi risiko seseorang. Oleh karena itu, pencegahan perlu mempertimbangkan berbagai faktor secara bersamaan. Mengurangi minuman berpemanis, memilih makanan bergizi, dan bergerak lebih aktif merupakan langkah yang bermanfaat. Selain membantu mengendalikan berat badan, kebiasaan tersebut mendukung kesehatan jantung dan metabolisme. Perubahan sederhana yang dilakukan secara konsisten sering lebih realistis dibandingkan perubahan ekstrem dalam waktu singkat.
Komplikasi Diabetes Bisa Mengancam Mata, Ginjal, dan Jantung
Diabetes yang tidak terdiagnosis dapat meningkatkan risiko komplikasi karena gula darah tinggi berlangsung tanpa pengendalian. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah dan jaringan tubuh. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah pada retina. Gangguan ini dapat menurunkan kemampuan penglihatan dan berpotensi menyebabkan kebutaan. Selain itu, diabetes dapat memengaruhi fungsi ginjal serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Kerusakan saraf juga dapat menimbulkan kesemutan, mati rasa, atau berkurangnya sensasi pada kaki. Akibatnya, luka kecil terkadang tidak segera disadari dan berisiko berkembang menjadi infeksi. Namun, komplikasi bukan sesuatu yang pasti dialami setiap penderita. Pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol dapat membantu menurunkan risikonya. Karena itu, diagnosis dini serta perawatan berkelanjutan sangat penting untuk menjaga kualitas hidup.
Pemeriksaan Gula Darah Menjadi Kunci Deteksi Lebih Awal
Pemeriksaan gula darah memiliki peran penting dalam menemukan diabetes sebelum muncul komplikasi. Beberapa metode yang digunakan meliputi pemeriksaan glukosa darah puasa dan HbA1c. Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan, kadar glukosa plasma puasa minimal 126 mg/dL termasuk kriteria diabetes. Sementara itu, hasil HbA1c sebesar 6,5 persen atau lebih juga memenuhi salah satu kriteria diagnosis. Namun, hasil pemeriksaan perlu ditafsirkan oleh tenaga medis sesuai kondisi pasien. Pada orang tanpa gejala khas, konfirmasi melalui pemeriksaan tambahan umumnya diperlukan. Selain itu, hasil pemeriksaan glukometer untuk skrining tidak selalu cukup untuk menegakkan diagnosis. Karena itu, masyarakat dengan faktor risiko sebaiknya berkonsultasi mengenai kebutuhan pemeriksaan. Riwayat keluarga, kelebihan berat badan, dan tekanan darah tinggi menjadi beberapa pertimbangan penting. Dengan pemeriksaan yang tepat, penanganan dapat dimulai sebelum gangguan kesehatan berkembang lebih jauh.
Kesadaran Masyarakat Menjadi Harapan Baru Melawan Diabetes
Tingginya kasus diabetes di Indonesia yang belum terdiagnosis menunjukkan perlunya perubahan pendekatan kesehatan masyarakat. Selama ini, sebagian orang baru mencari pertolongan ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas. Padahal, pendekatan pencegahan dan deteksi dini dapat membantu mengurangi keterlambatan diagnosis. Puskesmas, fasilitas kesehatan, dan kegiatan skrining masyarakat memiliki peran penting dalam memperluas akses pemeriksaan. Selain itu, edukasi kesehatan perlu disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami berbagai kelompok usia. Keluarga juga dapat membantu membangun kebiasaan makan seimbang dan aktivitas fisik teratur. Namun, upaya tersebut perlu disertai akses pemeriksaan yang terjangkau serta tindak lanjut medis yang jelas. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui risiko diabetes, tetapi juga memahami langkah yang perlu dilakukan. Angka 73,2 persen menjadi pengingat bahwa banyak kasus masih tersembunyi. Semakin cepat diabetes ditemukan, semakin besar peluang penderita memperoleh penanganan yang sesuai dan menjaga kualitas hidupnya.
