Stevia Makin Populer, Benarkah Lebih Aman daripada Gula Biasa?
Sorotan Hari Ini – Stevia semakin mudah ditemukan dalam minuman, makanan rendah gula, hingga pemanis meja. Popularitasnya tumbuh karena banyak orang mulai memperhatikan konsumsi gula harian. Selain itu, stevia menawarkan rasa manis dalam jumlah yang sangat kecil. Senyawa pemanis utamanya, yaitu steviol glycosides, memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 hingga 400 kali gula meja. Karena itu, produsen tidak membutuhkan jumlah besar untuk menghasilkan rasa manis. Namun, label “berasal dari tanaman” tidak otomatis membuat sebuah produk lebih sehat dalam segala kondisi. Jenis ekstrak, jumlah konsumsi, serta komposisi makanan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan. FDA sendiri membedakan steviol glycosides dengan kemurnian tinggi dari daun stevia utuh atau ekstrak stevia kasar. Jadi, pembahasan mengenai keamanan stevia sebaiknya merujuk pada bentuk steviol glycosides yang telah melalui evaluasi keamanan, bukan menyamaratakan semua produk berbahan stevia.
Baca Juga: Korea Utara Uji Rudal Klaster, Daya Hancurnya Capai 13 Hektare
Stevia dan Gula Biasa Bekerja dengan Cara Berbeda
Gula meja atau sukrosa menyediakan energi dan karbohidrat. Sebaliknya, pemanis nonnutritif seperti stevia digunakan dalam jumlah sangat kecil dan dapat membantu menekan asupan gula serta kalori. Perbedaan tersebut menjadi alasan stevia sering dipilih sebagai pengganti gula. Terutama, pilihan ini menarik bagi orang yang ingin mengurangi minuman atau makanan dengan tambahan gula. American Diabetes Association menjelaskan bahwa pemanis nonnutritif tidak tampak memberikan pengaruh signifikan terhadap glukosa darah pada penderita diabetes. Dalam penggunaan jangka pendek dan secukupnya, pemanis tersebut juga dapat membantu mengurangi asupan kalori, gula, serta karbohidrat. Meski demikian, hal itu bukan berarti makanan berlabel “sugar free” selalu lebih sehat. Produk tersebut masih dapat mengandung karbohidrat, lemak, atau kalori dari bahan lainnya. Oleh sebab itu, membaca daftar bahan dan informasi nilai gizi tetap penting sebelum menentukan pilihan.
Apakah Stevia Benar-Benar Lebih Aman daripada Gula?
Jawabannya tidak sesederhana memilih satu sebagai pemenang. Steviol glycosides dengan kemurnian tinggi telah dievaluasi oleh berbagai otoritas keamanan pangan. FDA, misalnya, tidak mempertanyakan kesimpulan GRAS untuk sejumlah steviol glycosides dengan kemurnian tinggi pada kondisi penggunaan yang ditetapkan. Sementara itu, EFSA menetapkan acceptable daily intake atau ADI sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari, dihitung sebagai steviol equivalents. Namun, istilah “aman” berbeda dari “memberikan manfaat kesehatan.” Seseorang dapat menggunakan pemanis yang dinilai aman tanpa otomatis mendapatkan pola makan yang lebih baik. Di sisi lain, konsumsi gula bebas yang berlebihan memang perlu dibatasi. WHO merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen energi harian, dengan pengurangan hingga 5 persen atau kurang yang dapat memberikan manfaat tambahan. Jadi, konteks pola makan tetap menjadi bagian terpenting.
WHO Tidak Menyarankan Stevia sebagai Jalan Pintas Diet
Ada satu hal penting yang sering hilang ketika stevia dibicarakan. Pada 2023, WHO merekomendasikan agar non-sugar sweeteners tidak digunakan sebagai strategi untuk mengendalikan berat badan atau mengurangi risiko penyakit tidak menular. Stevia dan turunannya termasuk dalam kelompok pemanis yang dibahas dalam pedoman tersebut. Menurut WHO, bukti yang ditinjau tidak menunjukkan manfaat jangka panjang dalam mengurangi lemak tubuh. Namun, rekomendasi ini bersifat kondisional. WHO juga menegaskan bahwa pedoman tersebut bukan penilaian toksikologi terhadap keamanan masing-masing pemanis. Artinya, rekomendasi WHO tentang pengendalian berat badan tidak sama dengan pernyataan bahwa stevia berbahaya. Pesan yang lebih tepat adalah bahwa mengganti gula dengan pemanis non-gula bukan solusi tunggal untuk kesehatan jangka panjang. Pada akhirnya, mengurangi ketergantungan terhadap rasa sangat manis tetap menjadi pendekatan yang lebih menyeluruh.
Keunggulan Stevia Terlihat Saat Menggantikan Gula Tambahan
Dalam praktik sehari-hari, manfaat stevia paling mudah dipahami ketika digunakan untuk menggantikan gula tambahan. Misalnya, seseorang terbiasa memasukkan beberapa sendok gula ke dalam kopi setiap hari. Menggantinya dengan stevia dapat menurunkan jumlah gula dan kalori dari minuman tersebut. Pendekatan serupa bisa berlaku pada makanan tertentu. Namun, manfaat itu dapat mengecil jika stevia digunakan dalam produk yang tetap tinggi kalori atau sangat diproses. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya terpaku pada tulisan “stevia” di bagian depan kemasan. Periksa juga gula tambahan, karbohidrat, kalori, serta bahan lain yang digunakan. American Diabetes Association menyebut sugar substitutes dapat menurunkan asupan karbohidrat dan kalori dibandingkan pemanis biasa. Meski demikian, bukti mengenai manfaat jangka panjang untuk pengelolaan berat badan atau kesehatan kardiometabolik belum cukup untuk menjadikannya solusi utama.
Tidak Semua Produk Stevia Memiliki Komposisi yang Sama
Rak supermarket dapat memberikan kesan bahwa seluruh produk berlabel stevia merupakan produk yang sama. Kenyataannya, komposisinya dapat berbeda. Beberapa produk menggunakan steviol glycosides dengan kemurnian tinggi. Sementara itu, produk meja tertentu dapat mencampurkan pemanis tersebut dengan bahan lain untuk menambah volume atau memperbaiki karakter rasa. Karena itu, konsumen perlu memeriksa daftar bahan sebelum membeli. FDA juga menekankan perbedaan antara steviol glycosides dengan kemurnian tinggi dan daun stevia utuh atau ekstrak kasar. Di Amerika Serikat, daun stevia utuh dan crude stevia extracts tidak dianggap GRAS untuk digunakan sebagai pemanis. Fakta ini penting karena istilah “alami” sering membuat konsumen menganggap semua bentuk stevia memiliki status keamanan yang sama. Padahal, penilaian regulator berlaku pada bentuk dan kondisi penggunaan tertentu. Dengan demikian, membaca label merupakan langkah sederhana untuk memahami produk yang benar-benar dikonsumsi.
Batas Konsumsi Tetap Penting Meski Stevia Sangat Manis
Stevia dapat memberikan rasa manis kuat dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan gula. Akan tetapi, prinsip moderasi tetap berlaku. EFSA menetapkan ADI steviol glycosides sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari, dinyatakan sebagai steviol equivalents. ADI bukan target konsumsi harian yang harus dicapai. Sebaliknya, angka tersebut merupakan perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa risiko kesehatan yang berarti berdasarkan evaluasi yang tersedia. Karena tingkat kemanisannya tinggi, penggunaan stevia biasanya memang relatif sedikit. Namun, seseorang dapat memperoleh steviol glycosides dari beberapa makanan dan minuman dalam satu hari. Oleh sebab itu, pola konsumsi keseluruhan tetap perlu diperhatikan. Selain itu, membiasakan lidah dengan rasa yang tidak terlalu manis dapat menjadi strategi yang lebih sederhana. Dengan cara tersebut, kebutuhan terhadap gula maupun pemanis alternatif dapat berkurang secara bertahap.
Mengurangi Rasa Manis Bisa Lebih Penting daripada Menggantinya
Perdebatan antara stevia dan gula sering berakhir pada pertanyaan yang terlalu sempit: mana yang lebih sehat? Padahal, pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat seberapa besar ketergantungan seseorang terhadap rasa manis. WHO menyarankan pengurangan gula bebas sepanjang hidup. Organisasi tersebut juga menyatakan bahwa pengurangan gula sebaiknya tidak bergantung pada penggunaan non-sugar sweeteners. Artinya, kopi dengan sedikit atau tanpa pemanis, air putih, buah utuh, serta makanan yang minim tambahan gula tetap memiliki peran penting. Stevia dapat menjadi alat transisi bagi sebagian orang yang ingin mengurangi gula. Namun, ia tidak perlu menjadi pusat dari pola makan sehat. Jika digunakan secara tepat, stevia dapat membantu menekan gula tambahan tanpa menghilangkan rasa manis secara langsung. Dalam jangka panjang, membangun pola makan yang lebih seimbang dan secara bertahap menurunkan preferensi terhadap rasa sangat manis merupakan pendekatan yang lebih kuat.
